Misteri Uranium Iran dan Antrean Truk di Fordow sebelum Serangan AS
Sabtu, 28 Juni 2025 | 10:00 WIB
Teheran, Beritasatu.com — Beberapa hari setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran, Isfahan, Natanz, dan Fordow, nasib cadangan uranium yang diperkaya 60% milik negara tersebut masih menjadi misteri besar.
Pada Minggu (22/6/2025), AS meluncurkan operasi Night Hammer dengan menjatuhkan 14 bom penghancur bunker GBU-57 seberat 14 ton serta lebih dari 20 rudal Tomahawk. Ketiga lokasi strategis itu diyakini menjadi pusat program pengayaan nuklir Iran.
Presiden AS Donald Trump menyatakan di media sosial bahwa serangan tersebut telah menghancurkan fasilitas nuklir Iran dan menegaskan bahwa negara itu tidak akan pernah mampu membangunnya kembali.
Namun, Kepala Organisasi Energi Atom Ira Mohammad Eslami, menepis klaim tersebut. Ia menegaskan bahwa Teheran telah mengambil langkah antisipatif untuk memastikan tidak ada gangguan pada program nuklir. Meski begitu, Pemerintah Iran tidak secara eksplisit menyebutkan keberadaan uranium yang sangat diperkaya pascaserangan.
Sebelum operasi militer tersebut, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) melaporkan bahwa Iran memiliki sekitar 5 ton uranium yang diperkaya rendah dan sekitar 400 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60%. Angka ini jauh di atas batas 3,67% sesuai perjanjian Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) yang ditandatangani pada 2015.
Menurut penilaian Israel dan AS, jika uranium tersebut diperkaya lebih lanjut hingga 90%, jumlahnya cukup untuk membuat sekitar 10 bom nuklir.
Para analis menilai keengganan Iran mengungkap nasib cadangan uranium yang diperkaya bisa menjadi strategi diplomasi. Ketidakjelasan ini dinilai memberikan daya tawar bagi Teheran dalam negosiasi dengan negara-negara Barat.
Sejumlah pakar meyakini bahwa Iran telah memindahkan sebagian besar cadangan uranium dari fasilitas bawah tanah Fordow ke lokasi rahasia sebelum serangan. Citra satelit dari Maxar Technologies mengungkap adanya aktivitas tak biasa di Fordow pada 19–20 Juni, termasuk antrean panjang truk di pintu masuk terowongan.
Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menyatakan bahwa Iran telah memberi tahu pihaknya akan mengevakuasi uranium jika fasilitas mereka terancam. Ia menyebutkan bahwa bahan tersebut disimpan dalam kontainer yang cukup kecil untuk dimuat dalam bagasi mobil biasa.
Sementara itu, pemerintah AS meyakini seluruh uranium tetap berada di Fordow dan terkubur akibat serangan udara. Wakil Presiden JD Vance menyatakan, lokasi uranium Iran bukanlah pertanyaan yang perlu kita bahas, dan mengeklaim bahwa serangan tersebut telah melumpuhkan kemampuan Iran memperkaya uranium.
Namun, beberapa ahli tidak sependapat.
“Sejumlah besar material nuklir masih belum diketahui keberadaannya,” kata Kelsey Davenport, Direktur Kebijakan Nonproliferasi di Arms Control Association.
“Kami memahami bahwa beberapa uranium telah dievakuasi oleh Iran dan kami tidak tahu di mana lokasinya,” ujar David Albright, mantan inspektur senjata nuklir PBB.
Sam Lair, peneliti di James Martin Center for Nonproliferation Studies, menambahkan bahwa Iran memiliki cukup waktu untuk memindahkan cadangan uranium bahkan sebelum serangan udara Israel operasi Lion Rising dimulai pada 13 Juni 2025. Menurutnya, Iran juga memiliki waktu selama 12 hari konflik saat fasilitas Isfahan belum diserang untuk mengevakuasi bahan penting tersebut.
Tanda-tanda kesiapan Iran menghadapi kemungkinan serangan juga terlihat. Pada hari yang sama dengan dimulainya Operasi Lion Rising, IAEA mencatat bahwa Iran mengumumkan rencana pembangunan situs pengayaan uranium baru.
“Iran kini tengah mempersiapkan diri untuk skenario serupa,” ujar Lair, sembari menambahkan bahwa negara itu telah membangun lokasi rahasia yang siap dipasangi sentrifugal dan tidak diketahui banyak orang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




