ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Badai Tropis Bualoi Tewaskan 11 Orang di Filipina, Ribuan Mengungsi

Sabtu, 27 September 2025 | 11:29 WIB
SL
SL
Penulis: Surya Lesmana | Editor: LES
Penjaga Pantai Filipina mengevakuasi warga dan hewan peliharaan saat banjir meningkat akibat Topan Bualoi di Ormoc, Provinsi Leyte, Filipina, pada Jumat, 26 September 2025.
Penjaga Pantai Filipina mengevakuasi warga dan hewan peliharaan saat banjir meningkat akibat Topan Bualoi di Ormoc, Provinsi Leyte, Filipina, pada Jumat, 26 September 2025. (AP/AP)

Manila, Beritasatu.com –  Jumlah korban tewas akibat Badai Tropis Bualoi di Filipina meningkat menjadi 11 orang pada Sabtu (27/9/2025), saat siklon tersebut bergerak mendekati Vietnam.

Bualoi menghantam pulau-pulau kecil di Filipina tengah pada Jumat (26/9/2025), menumbangkan pohon dan tiang listrik, merusak atap rumah, memicu banjir, serta memaksa sekitar 400.000 orang mengungsi.

Salah satu wilayah yang paling parah terdampak adalah Pulau Biliran, di mana delapan orang dilaporkan meninggal dan dua lainnya hilang. “Terjadi banjir meluas dan beberapa jalan masih terendam air hingga pagi ini. Namun, pengungsi mulai kembali ke rumah mereka seiring cuaca membaik,” kata pejabat bencana setempat, Noel Lungay.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, kantor pertahanan sipil di Manila melaporkan tiga kematian lain di pulau Masbate dan Ticao. Dua di antaranya meninggal akibat tertimpa pohon dan tembok yang roboh karena angin kencang.

Secara keseluruhan, 14 orang masih hilang di Filipina tengah, dan lebih dari 200.000 orang masih berada di pusat-pusat evakuasi di sepanjang jalur badai.

Bualoi menghantam Laut China Selatan pada Sabtu dengan kecepatan angin hingga 120 kilometer per jam, menurut laporan badan cuaca Filipina. Badai diperkirakan mencapai lepas pantai Vietnam tengah pada Minggu sore.

Sebelumnya, Topan Super Ragasa telah menewaskan 14 orang di Filipina utara. Dengan rata-rata 20 badai dan topan tiap tahun, Filipina menjadi salah satu negara paling rawan bencana di dunia.

Para ilmuwan memperingatkan, badai tropis kian kuat akibat pemanasan global yang dipicu oleh perubahan iklim.

Kemarahan publik juga meningkat di tengah bencana ini, menyusul skandal proyek pengendalian banjir palsu yang merugikan negara miliaran dolar. Ribuan orang turun ke jalan untuk berdemo secara damai, namun aksi tersebut berujung ricuh dengan pembakaran kendaraan polisi dan perusakan fasilitas umum.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon