Hamas Lambat Serahkan Jenazah Sandera, Israel Batasi Bantuan ke Gaza
Rabu, 15 Oktober 2025 | 11:00 WIB
Yerusalem, Beritasatu.com – Kelompok Hamas menyerahkan lebih banyak jenazah sandera kepada Israel pada Selasa (14/10/2025), menandai langkah kecil menuju kemajuan setelah beberapa kemunduran sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggembar-gemborkan rencananya untuk mengakhiri perang di Gaza.
Israel mengonfirmasi penerimaan empat peti mati dari Palang Merah di titik perbatasan Jalur Gaza utara. Jenazah tersebut dibawa untuk identifikasi forensik di Israel. Hamas juga mengonfirmasi proses penyerahan itu masih berlangsung.
“Saat ini, kami terus memantau pelaksanaan kesepakatan mengenai penyerahan jenazah sebagai bagian dari perjanjian untuk mengakhiri perang di Gaza,” ujar juru bicara Hamas, Hazem Qassem, melalui Facebook.
Israel sebelumnya mengumumkan akan mengurangi setengah jumlah truk bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza. Keputusan ini diambil sebagai sanksi terhadap Hamas, yang menurut Israel telah melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan tidak segera menyerahkan seluruh jenazah sandera.
Langkah itu memicu ketegangan baru, di tengah kondisi kemanusiaan yang memburuk. Kota Gaza dan sekitarnya kini menghadapi krisis pangan parah, dengan lebih dari setengah juta warga mengalami kelaparan. Padahal, lebih dari 600 truk bantuan dibutuhkan setiap hari selama gencatan senjata untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.
Sementara itu, pejuang Hamas kembali memperlihatkan kehadiran mereka di jalan-jalan Gaza. Ratusan anggota bersenjata dikerahkan untuk mengamankan distribusi bantuan, namun juga melakukan eksekusi terhadap warga yang dituduh bekerja sama dengan Israel.
Dalam sebuah video yang beredar, terlihat pejuang Hamas menembak mati tujuh pria di alun-alun Kota Gaza, setelah menuduh mereka menjadi kolaborator Israel. Hamas membenarkan kejadian tersebut, sementara Reuters mengonfirmasi lokasi video menggunakan data geografis.
Kondisi di lapangan semakin rumit setelah Trump memperingatkan bahwa AS akan melucuti senjata Hamas secara paksa jika kelompok itu tidak menyerah.
“Jika mereka tidak melucuti senjata, kami akan melucuti senjata mereka, dengan cepat dan mungkin dengan kekerasan,” tegas Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, sehari setelah berpidato di Knesset, Yerusalem.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan perang tidak akan berakhir sebelum Hamas menyerahkan seluruh persenjataan dan kendali atas Gaza, tuntutan yang hingga kini ditolak keras oleh kelompok militan tersebut.
Sebelumnya, Trump mengumumkan “fajar bersejarah bagi Timur Tengah baru” saat Israel dan Hamas menukar 20 sandera hidup dengan hampir 2.000 tahanan Palestina. Namun, pengembalian 28 jenazah sandera masih menjadi bagian paling sensitif dalam kesepakatan akhir.
Sumber Hamas menyebut kelompok itu tidak akan lagi mentoleransi pelanggaran di Gaza dan berjanji akan menindak penjarah, kaki tangan Israel, dan pengedar narkoba.
Gencatan senjata ini menghentikan dua tahun perang yang menghancurkan Gaza, yang berawal dari serangan 7 Oktober 2023 ketika pejuang Hamas menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan menyandera 251 orang.
Menurut otoritas kesehatan Gaza, sedikitnya 67.000 warga tewas selama konflik, dengan ribuan lainnya masih tertimbun reruntuhan. Dinas Pertahanan Sipil Gaza menyebut telah menemukan lebih dari 250 jenazah baru sejak gencatan senjata diberlakukan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




