Kebakaran Maut Hong Kong: Benarkah Rangka Bambu Jadi Pemicu?
Sabtu, 29 November 2025 | 08:47 WIB
Hong Kong, Beritasatu.com – Tragedi memilukan melanda Hong Kong. Puluhan nyawa melayang dalam kobaran api yang melahap kompleks apartemen Wang Fuk Court, Rabu (26/11/2025) sore. Insiden ini tak hanya menyisakan duka, tetapi juga menyulut perdebatan sengit mengenai keamanan rangka bambu, ikon konstruksi khas kota tersebut yang dituding mempercepat penyebaran api.
Pemerintah Hong Kong bergerak cepat dengan janji reformasi, tetapi langkah ini menuai pro dan kontra di tengah masyarakat yang memegang teguh tradisi.
Hong Kong merupakan salah satu benteng terakhir di dunia yang masih setia menggunakan rangka bambu untuk konstruksi gedung pencakar langit. Teknik kuno ini telah digunakan selama berabad-abad di wilayah Tiongkok dan Asia.
Saat kebakaran terjadi, delapan gedung tinggi di Wang Fuk Court tengah menjalani renovasi besar. Fasad bangunan tertutup rapat oleh kisi-kisi bambu dan jaring pelindung hijau, yang menurut pemerintah, menjadi salah satu faktor fatal.
Pada Jumat (28/11/2025), otoritas Hong Kong menyatakan bahwa potongan bambu yang terbakar dan jatuh ke bawah memperparah situasi. Sehari sebelumnya, pemerintah menegaskan urgensi untuk beralih ke perancah logam demi alasan keselamatan.
Kepala Keamanan Hong Kong Chris Tang memaparkan temuan awal yang mengerikan. Api diduga bermula dari jaring pelindung di lantai bawah, lalu merambat kilat ke atas melalui papan busa (foam board) yang sangat mudah terbakar.
"Papan busa itu menempel di jendela, memecahkan kaca karena panas, lalu menyebabkan api menjalar masuk ke dalam ruangan," jelas Tang.
Panas ekstrem membuat batang bambu patah dan jatuh, menyebarkan api ke lantai di bawahnya.
Namun, narasi pemerintah ini dilawan keras oleh sebagian warga. Mereka menilai bambu hanyalah "kambing hitam". Beberapa pihak bahkan mengecam pandangan ini sebagai sikap "orientalis" yang menyudutkan kerajinan tradisional Hong Kong.
Anwar Orabi, ahli keselamatan kebakaran dari Universitas Queensland, mengingatkan agar publik tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
"Ini masalah yang sangat rumit. Bambu memang terbakar, tetapi dia bukan satu-satunya penyebab. Jawaban pastinya masih terlalu dini," ujarnya kepada AFP.
Senada dengan Orabi, Ho Ping-tak, ketua serikat tukang rangka bambu menegaskan bahwa bambu murni sebenarnya sulit terbakar. Ia justru mendesak pemerintah memperketat aturan bahan pelapis tahan api, bukan menyalahkan bambunya.
Data industri mencatat hampir 80 persen perancah di Hong Kong masih menggunakan bambu, dengan sekitar 3.000 praktisi aktif. Bahannya murah, berkelanjutan (sustainable), dan fleksibel untuk gang-gang sempit Hong Kong.
Namun, profesor teknik dari Universitas Politeknik Hong Kong Ho Wing-ip memberikan pandangan teknis yang suram. Ia menyoroti bahwa kebakaran di Wang Fuk Court berlangsung lebih dari 40 jam.
"Anda hanya bisa melihat sisa-sisa bambu yang hangus. Jika itu logam, rangkanya mungkin masih berdiri," katanya, seraya menyesalkan keputusan merenovasi delapan blok gedung secara bersamaan yang membuat api tak terkendali.
Di media sosial, perdebatan tak kalah panas. Jurnalis Tom Grundy menyebut di platform X bahwa "politik identitas" kini mewarnai diskusi teknis ini. Sementara akademisi Leung Kai-chi mengkritik media yang terlalu fokus pada bambu seolah menyalahkan hal-hal yang dianggap "asing dan eksotis".
Pada akhirnya, Chau Sze-kit dari serikat pekerja konstruksi menyimpulkan dengan bijak. "Baik bambu maupun logam, selama pengelolaannya tepat dan regulasi dipatuhi, keduanya relatif aman”.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




