Kapal-kapal Perang AS Semakin Dekat, Iran Mulai Siap Siaga
Jumat, 30 Januari 2026 | 13:14 WIB
Teheran, Beritasatu.com – Otoritas Iran menunjukkan kesiapan membela negaranya di tengah meningkatnya ancaman serangan militer dari Amerika Serikat (AS), meski upaya diplomatik regional terus dilakukan untuk mencegah konflik baru.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan menggelar pembicaraan tingkat tinggi di Turki pada Jumat (30/1/2026). Pertemuan ini berlangsung seiring mendekatnya armada militer AS ke wilayah sekitar Iran.
Baghaei menambahkan, Iran selama ini berupaya memperkuat hubungan dengan negara-negara tetangga berdasarkan kepentingan bersama. Namun, situasi keamanan kawasan kembali memanas setelah sejumlah kapal induk AS bergerak menuju Timur Tengah.
Pada Rabu (28/1/2026), beberapa kapal induk AS dilaporkan memposisikan diri di dekat perairan Iran. Total kapal perang AS di kawasan tersebut kini mencapai 10 unit, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln. Kehadiran armada tempur ini dinilai sebagai simbol kekuatan signifikan bagi Presiden AS Donald Trump jika memutuskan melakukan serangan terhadap Iran.
Mengutip laporan Asharq Al Awsat, Kamis (29/1/2026), jumlah kapal perang AS di Timur Tengah saat ini hampir setara dengan armada yang dikerahkan ke kawasan Karibia menjelang operasi penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan elite Delta Force One pada awal Januari 2026.
Di sisi lain, Iran dalam beberapa hari terakhir kembali menegaskan kekuatan militernya. Langkah ini menyusul serangkaian latihan militer yang digelar sejak perang 12 hari pada Juni 2025, ketika sejumlah pejabat militer senior Iran tewas dan beberapa situs nuklir diserang.
Tentara Iran telah mengumumkan sebanyak 1.000 drone baru telah bergabung dengan kekuatan militernya. Menurut pernyataan resmi, drone tersebut mencakup drone bunuh diri satu arah, pesawat tempur tanpa awak, drone pengintaian, serta unit yang mampu melakukan perang siber. Seluruhnya dirancang untuk menyerang target tetap maupun bergerak di darat, udara, dan laut.
Otoritas politik, militer, dan peradilan tingkat tinggi Iran menegaskan, fokus mereka saat ini adalah pertahanan, bukan negosiasi.
“Prioritas Iran saat ini bukanlah untuk bernegosiasi dengan AS, tetapi untuk memiliki kesiapan 200% untuk membela negara kita,” kata anggota senior tim negosiasi Iran, Kazem Gharibabadi.
Gharibabadi mengungkapkan, beberapa waktu terakhir memang ada pertukaran pesan dengan AS melalui pihak perantara. Namun, ia menegaskan meskipun kondisi memungkinkan untuk berdialog, Iran tetap akan bersiaga penuh mengantisipasi serangan. Iran sebelumnya telah diserang, pertama oleh Israel dan kemudian oleh AS, pada Juni 2025 tepat ketika proses negosiasi akan dimulai.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




