Melunak! Iran Siap Encerkan Kandungan Uranium jika AS Cabut Sanksi
Senin, 9 Februari 2026 | 22:19 WIB
Teheran, Beritasatu.com - Pemerintah Iran menyatakan kesiapannya untuk "mengencerkan" kandungan uranium yang telah diperkaya tinggi jika seluruh sanksi internasional yang menjerat negara tersebut dicabut. Pernyataan ini menjadi sinyal diplomasi terbaru di tengah memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Melansir kantor berita resmi IRNA pada Senin (9/2/2026), Direktur Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), Mohammad Eslami, menegaskan bahwa proses teknis pengenceran uranium hingga kadar 60% sangat bergantung pada komitmen Barat.
"Keputusan untuk mengencerkan uranium hasil pengayaan 60% bergantung pada apakah semua sanksi dicabut," ujar Eslami tanpa merinci apakah merujuk pada sanksi kolektif PBB atau sanksi spesifik dari Amerika Serikat.
Berdasarkan data Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Teheran saat ini diperkirakan mengantongi sekitar 5 ton uranium diperkaya rendah dan 400 kg uranium dengan tingkat kemurnian 60%. Angka ini menempatkan Iran sebagai satu-satunya negara nonnuklir di dunia yang melakukan pengayaan pada level tersebut.
Secara teknis, jika pemurnian mencapai ambang batas 90%, Iran berpotensi memiliki bahan baku yang cukup untuk memproduksi setidaknya 10 bom nuklir.
Info Teknis: Pengenceran uranium adalah proses mencampur uranium yang diperkaya tinggi dengan uranium alami atau uranium yang diperkaya rendah guna menurunkan tingkat konsentrasinya di bawah ambang batas senjata.
Ketegangan semakin meruncing setelah Amerika Serikat mengerahkan kekuatan militer signifikan ke Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump secara terbuka memperingatkan bahwa "hal-hal buruk" akan terjadi jika Teheran menolak meja perundingan.
Sebagai langkah peredaman konflik, pejabat senior kedua negara telah bertemu secara langsung di Oman pada 6 Februari lalu. Delegasi AS dipimpin oleh Utusan Khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi, menyebut pertemuan tersebut sebagai "awal yang baik," meski tetap menyisakan celah perbedaan yang lebar. Teheran bersikeras hanya ingin membahas isu nuklir, sementara Washington menuntut negosiasi mencakup program rudal balistik dan dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan.
"Kami menginginkan negosiasi serius yang bertujuan untuk mencapai hasil, dan pihak lain perlu menunjukkan tingkat keseriusan yang serupa," tegas Araqchi.
Namun, ia merasa adanya ketidakpercayaan yang mendalam, karena perilaku AS dalam beberapa tahun terakhir.
Babak lanjutan perundingan dijadwalkan berlangsung pekan ini di Oman. Sinyal keseriusan Teheran terlihat dari kabar keberangkatan Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Iran sekaligus penasihat Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, ke Oman pada 10 Februari besok.
Akankah diplomasi "barter sanksi" ini berhasil meredam ambisi nuklir Iran, atau justru menjadi jalan buntu baru di bawah kepemimpinan Trump? Dunia kini menanti hasil dari meja runding di Muscat, Oman.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




