Akademisi Iran: Rencana Gencatan Senjata Bisa Jadi Tipu Daya AS
Kamis, 9 April 2026 | 07:25 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Rencana gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih menyisakan ketidakpastian. Dosen filsafat dari Sekolah Tinggi Al-Hadi Qom, Iran, Ebrahim Zargar menilai situasi ke depan belum dapat diprediksi meskipun upaya deeskalasi mulai dibicarakan.
Menurut Zargar, dinamika konflik AS-Iran masih sangat cair. Ia menekankan, apa yang akan terjadi dalam beberapa hari ke depan sangat bergantung pada langkah politik dan militer kedua negara.
Di tengah ketegangan tersebut, Zargar menyebut masyarakat Iran tetap solid mendukung kebijakan pemerintah, baik untuk melanjutkan perang maupun mempertahankan gencatan senjata.
"Masyarakat Iran secara umum mendukung pemerintah. Kalau mau melanjutkan perang, tidak apa-apa, dan kalau mau melanjutkan gencatan senjata, tidak apa-apa," ujarnya.
Pernyataan ini mencerminkan kuatnya dukungan publik Iran terhadap pemerintah di tengah konflik geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah.
Skeptisisme terhadap Gencatan Senjata
Zargar juga menyoroti motif di balik serangan AS ke Iran. Ia menilai tindakan tersebut bukan tanpa alasan, mengingat hubungan kedua negara telah lama diwarnai ketegangan, termasuk dalam dua periode negosiasi yang tidak membuahkan hasil signifikan.
"Tidak ada seorang pun di Iran yang mempunyai pandangan positif terhadap Amerika, termasuk diplomasi dan negosiasi dengan mereka," jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan pandangan skeptis terhadap rencana gencatan senjata AS-Iran. Menurutnya, langkah tersebut bisa saja merupakan strategi politik Presiden Donald Trump untuk memperkuat kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah.
Zargar bahkan menilai bahwa gencatan senjata dapat menjadi upaya terselubung untuk membuka akses bagi kapal perang AS agar dapat melintasi Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi global.
"Keadaannya di Timur Tengah belum 100% jelas. Kalau sanksi Iran diselesaikan, juga Israel mundur dari Lebanon, itu bagus," tuturnya.
Iran Tidak Gentar Hadapi Konflik
Meski ketegangan meningkat, Zargar menegaskan masyarakat Iran tidak gentar menghadapi kemungkinan perang berkepanjangan. Ia menggambarkan tingginya mobilisasi publik sejak serangan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026.
Menurutnya, jutaan warga Iran turun ke jalan hampir setiap malam selama bulan Ramadan untuk memprotes AS dan menyuarakan dukungan kepada pemerintah.
"Pada saat Lebaran, mereka juga (turun) ke jalan. Karena itu, kami tidak khawatir," tegasnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa konflik Iran dengan AS dan sekutunya tidak hanya menjadi isu politik, tetapi juga telah membangkitkan solidaritas nasional di kalangan masyarakat Iran.
Sikap Indonesia Dorong Diplomasi
Sementara itu, Indonesia menyambut positif rencana gencatan senjata selama 2 minggu antara AS dan Iran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvone Mewengkang menyatakan langkah tersebut membuka peluang bagi jalur diplomasi.
"Perkembangan ini tentunya mencerminkan adanya upaya dari para pihak terkait untuk tetap membuka ruang diplomasi guna mendorong deeskalasi," kata Yvone, dikutip Beritasatu.com pada Kamis (9/4/2026).
Indonesia, lanjutnya, mendorong agar momentum ini dimanfaatkan secara optimal untuk mencapai penyelesaian damai yang berkelanjutan.
Pemerintah Indonesia juga menegaskan komitmennya dalam mendukung diplomasi konstruktif, termasuk upaya yang dapat mengarah pada solusi permanen dengan mengedepankan keselamatan warga sipil.
Ketidakpastian Masih Membayangi
Ketegangan AS-Iran hingga kini masih menjadi sorotan global. Selain berdampak pada stabilitas kawasan Timur Tengah, konflik ini juga berpotensi memengaruhi jalur perdagangan internasional, khususnya di Selat Hormuz.
Dengan berbagai kepentingan geopolitik yang saling bertabrakan, masa depan hubungan AS dan Iran masih sulit dipastikan. Gencatan senjata yang direncanakan pun belum tentu menjadi akhir dari konflik yang telah berlangsung lama.
Situasi ini membuat dunia internasional terus mencermati perkembangan terbaru, sembari berharap jalur diplomasi dapat menjadi solusi utama dalam meredakan konflik.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




