ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bill Clinton Bongkar Rapuhnya Gencatan Senjata AS-Iran

Kamis, 9 April 2026 | 10:24 WIB
H
H
Penulis: Herman | Editor: HE
Mantan Presiden AS Bill Clinton
Mantan Presiden AS Bill Clinton (AP Photo/Jacquelyn Martin)

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Bill Clinton menyoroti rapuhnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, serta meningkatnya ketidakpastian di kawasan Selat Hormuz yang berdampak pada stabilitas global.

Dalam pernyataannya yang ditayangkan channel YouTube @clarity_brief, Kamis (9/4/2026), Clinton menyebut kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan yang dicapai menjelang tenggat waktu serangan militer sebagai momen krusial yang harus dicermati secara serius.

Ia menilai situasi saat ini belum menunjukkan tanda-tanda stabil. Menurutnya, gencatan senjata sudah mulai menunjukkan keretakan, sementara kedua pihak sama-sama mengeklaim kemenangan dan serangan masih terjadi di kawasan Teluk.

ADVERTISEMENT

“Saya tidak melihat ini sebagai kemenangan. Saya melihat sebuah negara yang hampir jatuh ke dalam bencana besar dan ditarik kembali di detik terakhir tanpa rencana yang jelas ke depan,” kata Clinton.

Ia juga menekankan, kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian serius, terutama bagi masyarakat Amerika.

Clinton menjelaskan, konflik ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia menyinggung kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang melibatkan AS, Eropa, Rusia, dan China.

Menurutnya, meski tidak sempurna, perjanjian itu berhasil membatasi program nuklir Iran melalui pengawasan internasional yang ketat. Namun, situasi berubah setelah Donald Trump menarik AS keluar dari kesepakatan tersebut pada 2018.

“Setelah itu, Iran kembali memperkaya uranium dari 3,67% menjadi 60% dan lebih. Semua mekanisme pengawasan yang dibangun sebelumnya hilang,” jelasnya.

Ketegangan memuncak pada Februari 2026 ketika AS dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran. Dampaknya, Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia, sempat ditutup. Penutupan tersebut menyebabkan lonjakan harga minyak, gangguan pasar global, dan terhambatnya jalur distribusi energi dan pangan dunia.

Clinton menilai kesepakatan gencatan senjata yang tercapai saat ini masih menyisakan banyak persoalan, termasuk soal kendali Iran atas Selat Hormuz.

Ia juga menyoroti usulan kerja sama yang memungkinkan Iran menarik biaya dari kapal yang melintas di selat tersebut.

“Sebelum perang, selat itu terbuka dan bebas dilalui. Sekarang kita berbicara tentang semacam ‘gerbang berbayar’ yang dikelola oleh negara yang baru saja berkonflik dengan kita,” ujarnya.

Clinton menegaskan, dirinya tidak menolak gencatan senjata, tetapi ia mengkritik proses negosiasi yang dinilai tergesa-gesa dan tidak terstruktur.

“Saya tidak mengkritik adanya gencatan senjata. Setiap kali bom berhenti dan nyawa terselamatkan, itu hal baik. Yang saya kritik adalah prosesnya,” tegasnya.

Ia membandingkan situasi saat ini dengan proses diplomasi masa lalu yang dinilai lebih matang dan terencana, seperti saat perjanjian Dayton pada 1995.

Menurut Clinton, pendekatan yang dilakukan saat ini justru membuka kelemahan posisi negosiasi AS di mata dunia.

“Pada akhirnya, kesepakatan yang diambil di menit-menit terakhir terlihat lebih mencerminkan keinginan Iran dibandingkan posisi awal Amerika,” ujar Clinton.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Kasus Epstein, Hillary Clinton Disidik DPR AS 6 Jam

Kasus Epstein, Hillary Clinton Disidik DPR AS 6 Jam

INTERNASIONAL
Dokumen Epstein Dibuka ke Publik, Nama Trump dan Bill Clinton Terseret

Dokumen Epstein Dibuka ke Publik, Nama Trump dan Bill Clinton Terseret

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon