ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Menlu Rusia Menyangkal Fakta Kondisi Krisis Pangan

Kamis, 28 Juli 2022 | 07:15 WIB
UW
UW
Penulis: Unggul Wirawan | Editor: WIR
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan timpalannya dari Etiopia Demeke Mekonnen mengadakan konferensi pers bersama setelah pembicaraan mereka di Addis Ababa pada Rabu 27 Juli 2022. 
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan timpalannya dari Etiopia Demeke Mekonnen mengadakan konferensi pers bersama setelah pembicaraan mereka di Addis Ababa pada Rabu 27 Juli 2022.  (AFP/Kementerian Luar Negeri Rusia/Dokumentasi)

Addis Ababa, Beritasatu.com- Menlu Rusia, Sergei Lavrov menyangkal kondisi krisis pangan. Seperti dilaporkan AP, Rabu (27/7/2022), Lavrov menegaskan Rusia tidak bertanggung jawab atas lonjakan harga pangan global menyusul invasinya ke Ukraina.

Pernyataan itu dilontarkan Lavrov saat ia menyelesaikan kunjungan ke beberapa negara Afrika, yakni benua sangat terpukul.

Berbicara kepada wartawan dan diplomat Afrika di ibu kota Etiopia, Addis Ababa, Sergei Lavrov menuduh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa menaikkan harga dengan menerapkan kebijakan hijau yang "sembrono" dan bahkan menimbun makanan selama pandemi Covid-19.

Baca Juga: Imbas Rusia, 276 Juta Rakyat Global Alami Krisis Pangan

ADVERTISEMENT

"Situasi di Ukraina juga berdampak negatif terhadap pasar makanan, tetapi bukan karena operasi khusus Rusia, melainkan karena reaksi Barat yang sama sekali tidak memadai, yang mengumumkan sanksi," katanya.

Menurut Lavrov, negara-negara Barat telah berulang kali menunjukkan bahwa makanan dibebaskan dari sanksi mereka terhadap Rusia dan menyalahkan Moskwa atas krisis global.

Lavrov mengatakan kesepakatan terobosan minggu lalu untuk menyediakan koridor yang aman melalui Laut Hitam untuk berton-ton biji-bijian yang terperangkap dari Ukraina "bisa saja diumumkan sejak lama, jika bukan karena keras kepala Barat dalam bersikeras bahwa mereka selalu benar."

Baca Juga: Cegah Krisis Pangan, India Perketat Aturan Ekspor Terigu

Lavrov mengatakan kapal-kapal Rusia dan Turki akan mengawal kapal-kapal yang terperangkap di pelabuhan Ukraina melalui Laut Hitam setelah Ukraina menjinakkan garis pantainya.

Banyak negara Afrika sangat bergantung pada impor gandum dari Rusia dan Ukraina, dan para pemimpin Afrika beberapa minggu yang lalu mengunjungi Moskwa untuk mengungkapkan masalah pangan mereka sementara kelaparan yang menjulang mengintai Tanduk Afrika, termasuk Etiopia, selama kekeringan terburuk dalam beberapa dasawarsa.

Tetapi banyak negara Afrika belum secara terbuka mengkritik Rusia atas invasinya ke Ukraina. Para ahli telah mengutip dukungan Moskwa untuk beberapa negara Afrika sejak Uni Soviet atau peran Rusia sebagai pemasok senjata utama ke benua itu sambil mengirimkan bantuan kemanusiaan yang relatif sedikit.

Baca Juga: Jokowi: G-7 dan G-20 Harus Segera Atasi Krisis Pangan

Etiopia adalah pusat diplomatik Afrika dan negara terpadat kedua, dan akhir tahun ini diharapkan menjadi tuan rumah KTT Rusia-Afrika kedua. Presiden Ukraina awal tahun ini berbicara kepada badan benua Uni Afrika yang berbasis di Addis Ababa tentang invasi Rusia, tetapi hanya sedikit kepala negara yang dilaporkan mendengarkan.

Lavrov dalam perjalanannya ke Afrika telah berusaha meyakinkan para pemimpin yang khawatir tentang lonjakan harga gandum dan membenarkan invasi Rusia ke Ukraina, yang ia sebut sebagai "ancaman" di perbatasan Rusia.

Pemerintah Etiopia tidak membuat komentar publik tentang perang di Ukraina atau krisis pangan selama kunjungan Lavrov. Media pemerintah hanya melaporkan bahwa Rusia dan Etiopia telah sepakat untuk memperkuat hubungan ekonomi.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Menlu Rusia Sebut Inggris Tak Pantas Disebut Britania Raya

Menlu Rusia Sebut Inggris Tak Pantas Disebut Britania Raya

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon