Bani Saleh Bekasi Latih Siswa Cari Kerja dengan Modal Rp 10.000
Selasa, 17 Juni 2025 | 12:30 WIB
Bekasi, Beritasatu.com — Sebuah program pendidikan karakter dari SMK Bani Saleh, Bekasi Timur, tengah menjadi perbincangan, karena pendekatannya yang tidak biasa.
Sekolah swasta yang terletak di Jalan RA Kartini, Kelurahan Margahayu, Kota Bekasi, ini menerapkan metode unik untuk membekali siswa sebelum kelulusan. Mereka ditantang mencari pekerjaan nyata hanya dengan bermodalkan uang Rp 10.000.
Sebanyak 56 siswa dibagi menjadi sembilan kelompok. Mereka ditugaskan menyebar ke sejumlah lokasi yang telah ditentukan, dan harus mencari pekerjaan apa pun yang bisa dilakukan. Seluruh aktivitas tetap dipantau guru dari kejauhan, tetapi siswa tidak diperbolehkan membawa ponsel, makanan, minuman, masker, atau menerima bantuan dari orang yang dikenal.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Dwitya Wulandari, menyampaikan program ini bukan hal baru bagi SMK Bani Saleh.
"Konsep ini sebenarnya bukan hal baru. Sudah berjalan sejak angkatan pertama, tepatnya sejak SMK Bani Saleh berdiri pada 2009," kata Dwitya kepada Beritasatu.com, Selasa (17/6/2025).
Menurut Dwitya, tujuan utama dari program ini adalah memberikan pengalaman langsung kepada siswa tentang dunia kerja yang sesungguhnya. Mereka harus berkomunikasi, meyakinkan pemilik usaha, dan menyelesaikan tugas yang diberikan, mulai dari mencuci piring di warung makan hingga membantu di laundry.
Dwitya menjelaskan banyak siswa mengalami pengalaman berharga, termasuk rasa ditolak, kelelahan, serta penghargaan yang lebih besar terhadap nilai kerja dan pengorbanan orang tua.
"Anak-anak benar-benar dibekali pengalaman nyata. Bagaimana rasanya mencari kerja, melobi tempat kerja, bahkan merasakan ditolak oleh tempat-tempat yang mereka datangi. Mereka merasakan betapa berartinya diberi makan atau minum setelah bekerja, dan lebih bersyukur saat menerima imbalan," tambahnya.
Kegiatan berlangsung hanya selama satu hari, dari pagi hingga siang. Meski begitu, program ini menjadi bagian dari rangkaian pembekalan akhir masa sekolah.
Selain kegiatan di lapangan, siswa juga mengikuti mabit (malam bina iman dan takwa) selama tiga hari dua malam. Pada kegiatan itu mereka mendapatkan pembekalan spiritual, pembacaan Al-Qur'an, tajwid, dan pendidikan akhlak.
Berbeda dari ujian akademis, program ini tidak menggunakan sistem penilaian angka. Sebagai gantinya, siswa memperoleh sertifikat kelulusan pembekalan sebagai bukti kesiapan melanjutkan pendidikan atau masuk dunia kerja.
Program ini juga mendapatkan respons positif dari orang tua siswa, yang merasa anak-anak mereka jadi lebih menghargai usaha mencari nafkah.
Beberapa siswa bahkan berhasil menjalin hubungan baik dengan pemilik usaha tempat mereka bekerja. Ada yang diminta kembali, dianggap seperti keluarga, hingga bertukar nomor kontak.
Salah satu siswa, Adnan Syakila Mubarok, mengaku banyak belajar dari pengalaman ini. "Saya mengucapkan terima kasih kepada orang tua, karena perjuangan dan pengorbanan selama ini kita tidak tahu sebesar ini," ungkap Adnan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




