Cuaca Ekstrem Hentikan Aktivitas Ribuan Nelayan di Pandeglang
Kamis, 18 Desember 2025 | 12:39 WIB
Pandeglang, Beritasatu.com – Ribuan nelayan di sejumlah kecamatan wilayah Pandeglang Selatan, Banten, terpaksa menghentikan aktivitas melaut akibat cuaca ekstrem yang melanda pesisir selama hampir dua pekan terakhir. Gelombang tinggi disertai angin kencang membuat laut menjadi sangat berbahaya, sementara ketiadaan penghasilan menimbulkan tekanan ekonomi bagi keluarga nelayan.
Seorang nelayan asal Kecamatan Sumur, Ruyadinata, mengaku tak berani melaut karena kondisi cuaca yang belum membaik. Tanpa tangkapan, ia dan rekan-rekannya tidak memiliki sumber pendapatan lain.
"Enggak bisa melaut karena cuaca ekstrem," kata Ruyadinata, Kamis (18/12/2025).
Ia menjelaskan, berhentinya melaut berdampak langsung pada ekonomi keluarga. Tanpa hasil tangkapan, nelayan praktis tidak memiliki alternatif pendapatan lain.
"Dampaknya susah buat menutupi kebutuhan sehari-hari," tambahnya.
Ruyadinata menegaskan bahwa tekanan ekonomi membuat sebagian nelayan berada dalam dilema. Jika cuaca ekstrem terus berkepanjangan, nelayan terpaksa mengambil risiko tetap melaut meski keselamatan jiwa terancam.
"Kalau begini terus ya kami terpaksa akan tetap melaut," ujarnya.
Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Labuan, Andar Kusnandar, membenarkan kondisi ini. Ia menegaskan cuaca buruk menghentikan aktivitas nelayan secara luas dan mengimbau mereka untuk tetap menjaga keselamatan.
"Bukan hanya hujan dan angin, tetapi gelombang tinggi juga sangat berbahaya. Kami imbau agar nelayan tidak melaut demi keselamatan," kata Andar.
Menurut Andar, di Kecamatan Labuan terdapat sekitar 1.300 nelayan terdaftar terdampak langsung, ditambah sekitar 700 nelayan tidak terdaftar. Total nelayan yang berhenti melaut diperkirakan mencapai 2.000 orang di Labuan. Jika dihitung seluruh Pandeglang Selatan, jumlahnya bisa mencapai 4.500 hingga hampir 5.000 nelayan.
"Kalau di Kecamatan Labuan berdasarkan data dari kami itu sekitar 1.300. Kalau yang tidak terdaftar kurang lebih 700. Kalau untuk total keseluruhan ya sampai di angka 4.500 kurang lebih," jelas Andar.
Ia menambahkan, sebagian besar nelayan di Labuan tidak memiliki aktivitas alternatif selama musim cuaca buruk, berbeda dengan nelayan di wilayah selatan seperti Sumur yang bisa bertani atau bekerja di ladang.
Meski begitu, ada nelayan tradisional yang tetap nekat melaut ketika pagi terlihat cerah, mengandalkan pengalaman dan perkiraan sendiri tanpa alat modern seperti GPS demi memperoleh penghasilan.
"Mata pencarian mereka hanya melaut. Kalau pagi cuacanya terlihat bagus, mereka tetap mencoba meski risiko tetap tinggi," jelas Andar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




