Rakit Sungai Citanduy, Jalan Pulang yang Dipilih Hati
Minggu, 22 Maret 2026 | 09:00 WIB
Parigi, Beritasatu.com - Di tepian Sungai Citanduy waktu seolah berjalan lebih pelan setiap Lebaran. Deru mesin kendaraan tak sepenuhnya mendominasi, digantikan oleh riak air dan kayuhan rakit yang setia mengantar rindu menyeberang batas.
Di Dusun Mekarsari, Desa Maruyungsari, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, ada satu tradisi yang terus hidup dari tahun ke tahun, yakni menyeberang sungai demi bersilaturahmi. Bukan lewat jalan raya panjang yang memutar, melainkan dengan perahu rakit sederhana yang menghubungkan dua provinsi, yakni Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Pada Sabtu (21/3/2026) siang, tepat di hari pertama Idulfitri, antrean sepeda motor mulai mengular sejak pukul 12.00 WIB. Warga datang dari berbagai arah, membawa tas kecil, bingkisan, dan tentu saja harapan untuk bertemu keluarga di seberang. Di atas air, dua unit rakit bergerak hilir mudik, mengangkut penumpang tanpa henti.
Bagi sebagian orang, ini bukan sekadar pilihan transportasi. Ini adalah jalan pulang yang paling masuk akal dan paling bermakna.
Nuryanto, warga Pangandaran, Jawa Barat, sudah menjadikan rakit ini sebagai bagian dari ritual Lebarannya. Setiap tahun, ia memilih menyeberang Sungai Citanduy daripada memutar jauh melalui jalur darat.
“Kalau lewat darat bisa lebih dari sejam, harus memutar jauh lewat Manganti atau Kalipucang. Kalau pakai rakit, 30 menit sudah sampai,” tuturnya.
Namun bukan hanya soal waktu. Ada kesederhanaan yang justru terasa hangat. Dengan ongkos hanya Rp 5.000, ia bisa sampai ke tujuan tanpa harus memikirkan biaya bahan bakar yang lebih mahal.
Hal serupa dirasakan Saropah, warga Banyumas, Jawa Tengah, yang rutin menyeberang tiap Lebaran. Baginya, rakit ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan jembatan yang menjaga hubungan keluarga tetap dekat, meski terpisah batas wilayah.
“Lebih hemat dan lebih dekat. Setiap tahun saya lewat sini untuk silaturahmi. Sangat membantu,” katanya sambil menunggu giliran naik.
Di balik kesederhanaannya, rakit-rakit ini menjadi nadi kehidupan warga sekitar. Terlebih saat Lebaran, jumlah penumpang meningkat drastis. Bagi para pemilik rakit, momen ini menjadi berkah tersendiri.
Meski demikian, keselamatan tetap menjadi prioritas. Kapasitas penumpang dijaga, kondisi rakit diperiksa, dan perjalanan dilakukan dengan penuh kehati-hatian di atas arus sungai yang tak selalu tenang.
Di tengah geliat modernisasi dan kemudahan akses jalan, tradisi menyeberang dengan rakit ini tetap bertahan. Ia bukan hanya soal efisiensi jarak dan biaya, tetapi tentang menjaga makna silaturahmi dengan cara yang sederhana dan membumi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




