ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Pesantren Al-Achsaniyah, Kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus di Kudus

Sabtu, 7 Maret 2026 | 04:14 WIB
J
JS
Penulis: Jamaah | Editor: JJS
Pesantren Al-Achsaniyah Kudus
Pesantren Al-Achsaniyah Kudus (Beritasatu.com/Jamaah)

Kudus, Beritasatu.com – Suasana Ramadan di Pondok Pesantren Al-Achsaniyah, Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menghadirkan pemandangan berbeda. Sebanyak 120 santri merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK), mayoritas penyintas autisme, menjalani ibadah puasa sekaligus terapi kemandirian.

Berbeda dengan pesantren pada umumnya, aktivitas ibadah di pesantren ini dirancang sebagai bagian dari terapi bagi para santri. Rutinitas seperti salat lima waktu, sahur, hingga berbuka puasa menjadi sarana terapi okupasi dan terapi wicara yang disusun secara khusus.

Meski memiliki keterbatasan, semangat para santri tidak surut. Program Ramadan di Pesantren Al-Achsaniyah tetap disusun seperti pesantren konvensional, mulai dari salat tarawih berjemaah, tadarus Al-Qur’an, hingga hafalan surat-surat pendek.

ADVERTISEMENT

Salah satu santri, Dino, mengaku senang menjalani Ramadan di pondok pesantren tersebut. Dengan penuh antusias, ia menceritakan kegiatan sehari-harinya.

"Senang di sini, belajar ngaji dan salat. Puasa insyaallah bisa full. Tadi ngaji surat An-Nas dan belajar doa harian," ujar Dino dengan wajah ceria, Kamis (5/3/2026).

Mendidik santri ABK membutuhkan pendekatan khusus. Indri, salah satu pengajar sekaligus terapis di pesantren tersebut, mengatakan bahwa para santri memerlukan pengawasan intensif karena emosi mereka kerap sulit dikendalikan.

"Perlakuannya tentu sangat khusus, berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Namun, sejauh ini perkembangan mereka sangat bagus. Kami fokus melatih proses kemandirian mereka melalui rutinitas ibadah ini," jelasnyai.

Pengasuh Ponpes Al-Achsaniyah, Muhammad Faiq Aftoni menjelaskan, para santri dibagi dalam tiga kategori berdasarkan tingkat kemandirian. Kategori pertama adalah santri yang belum mandiri dan membutuhkan pendampingan penuh dari satu guru.

Kategori kedua adalah pra-mandiri, yakni santri yang mulai belajar melakukan aktivitas secara bertahap tanpa bantuan penuh. Sementara kategori ketiga adalah santri mandiri yang sudah mampu mengelola kebutuhan personalnya sendiri.

Keberadaan pesantren ini telah dikenal luas hingga ke mancanegara. Dari total 120 santri yang belajar di sana, mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Sumatera, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara Barat.

"Tujuannya adalah menemukan bakat dan minat anak agar mereka punya keterampilan untuk masa depan. Bahkan, permintaan dari Malaysia, Singapura, hingga Irak sempat masuk, namun terpaksa kami tolak karena keterbatasan SDM pengajar saat ini," ungkap Faiq.

Pesantren Al-Achsaniyah juga menerapkan sistem manajemen sosial yang inklusif. Biaya operasional ditopang melalui sistem subsidi silang, di mana santri dari keluarga mampu membantu pembiayaan santri yatim piatu dan dhuafa yang mendapatkan pendidikan secara gratis.

Hasilnya pun mulai terlihat. Sekitar 30 persen santri kini telah dinyatakan mandiri. Sebagian bahkan melanjutkan pendidikan di sekolah umum hingga perguruan tinggi.

"Sudah banyak yang mandiri. Ada yang sekolah di MTs Islamic Center, SMA Muhammadiyah, bahkan ada yang kuliah S1 di UMK hingga menempuh S2 di Unissula," tambahnya.

Melalui sentuhan kasih sayang, pendidikan agama, dan terapi yang terintegrasi, Pondok Pesantren Al-Achsaniyah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang bagi anak berkebutuhan khusus untuk tumbuh mandiri dan berprestasi.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon