ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Angka TBC Tinggi, Indonesia Genjot Skrining dan Target Eliminasi 2030

Senin, 17 November 2025 | 18:30 WIB
RA
RA
Penulis: Rizky Pradita Ananda | Editor: RP
Seputar TBC.
Seputar TBC. (Freepik.com/Lifestylememory)

Jakarta, Beritasatu.com- Pesatnya pertumbuhan kasus penyakit tuberkulosis (TBC) tak bisa dianggap remeh. Seperti diabetes, TBC menjadi salah satu momok alias penyakit dengan angka kasus tinggi di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri bernama Mycobacterium tuberculosis dan paling sering menyerang paru-paru.

Bakteri ini menyebar melalui udara ketika penderita TBC paru batuk, bersin, atau meludah. Penularannya pun sangat mudah, seseorang hanya perlu menghirup sedikit kuman untuk terinfeksi. Saat seseorang terinfeksi, umumnya akan mengalami batuk berkepanjangan, nyeri dada, kelelahan, berat badan menurun signifikan, deman, dan berkeringat pada malam hari.

Data dari Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menyebutkan, setiap tahunnya tercatat 10 juta orang jatuh sakit karena TBC. Meskipun merupakan penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan, 1,5 juta orang meninggal karena TBC setiap tahun menjadikan penyakit ini jadi penyebab kematian menular tertinggi di dunia.

ADVERTISEMENT


Dalam laman resminya WHO mencatat, meski tersebar di seluruh dunia, namun sebagian besar pengidap TBC tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Bahkan sekitar setengah dari seluruh pengidap TBC bisa ditemukan di Indonesia, dan tujuh negara lainnya yakni Bangladesh, China, India, Nigeria, Pakistan, Filipina, dan Afrika Selatan.

Kasus di Indonesia

Sejumlah daerah di Indonesia diketahui tengah menghadapi tingginya angka kasus TBC. Pertama ada Jakarta, Kepala Dinas Kesehatan Jakarta Ani Ruspitawati mengatakan sebanyak 49.000 kasus tuberkulosis atau TBC telah ditemukan di Jakarta.

"Jakarta ditargetkan oleh Kementerian Kesehatan untuk dapat menemukan 70.000 lebih kasus TBC. Sampai dengan saat ini kita sudah menemukan sampai dengan 49.000 kasus,” ujar Ani setelaah mendampingi pertemuan antara Gubernur Jakarta Pramono Anung dengan Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianu di Balai Kota Jakarta, pada Kamis (13/11/2025).

Kemudian ada Sumedang, diungkap oleh Kepala Dinas Kesehatan Sumedang Dikdik Sadikin pada Sabtu (15/11/2025) hingga triwulan ketiga telah ditemukan sekitar 3.000 kasus, dengan temuan terbanyak dari Kecamatan Sumedang Utara. Angka yang cukup tinggi, meski pemerintah pusat menargetkan Sumedang bisa menemukan setidaknya 5.000 kasus TBC pada tahun ini.

Angka kasus TBC yang cukup tinggi juga dialami Kabupaten Tangerang. Per 11 November 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang mencatat sebanyak 11.255 warganya mengidap TBC. Angka ini hampir menyentuh estimasi kasus tahun 2025, yakni 11.881 kasus.
 

Angka kasus dan alur pemeriksaan TBC di puskesmas. - (Antara Foto/Noropuadi)
Angka kasus dan alur pemeriksaan TBC di puskesmas. - (Antara Foto/Noropuadi)

Dikutip dari Antara, Senin (17/11/2025). Data Kementerian Kesehatan per 9 November 2025 mencatat ada delapan provinsi dengan jumlah kasus tertinggi yakni:

  • Jawa Barat: 234.380 kasus.
  • Jawa Timur: 116.538 kasus.
  • Jawa Tengah: 107.488 kasus.
  • Sumatera Utara: 74.297 kasus.
  • Jakarta: 70.258 kasus.
  • Banten: 50.298 kasus.
  • Sulawesi Selatan: 45.472 kasus.
  • Nusa Tenggara Timur: 17.928 kasus.

Target Eliminasi TBC 2030

Pemerintah menargetkan Indonesia bisa terbebas dari penyakit TBC pada 2030, dengan sisa waktu hanya tinggal lima tahun lagi, kini pemerintah pusat dan pemerintah daerah tengah berupaya keras agar target tersebut bisa tercapai.

Guna mendeteksi dini lebih banyak pengidap TBC di masyarakat, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperluas layanan skrining tuberkulosis (TBC) di 100 puskesmas di delapan provinsi dengan kasus tinggi pada 2026. Sebelumnya, program skrining hanya dilakukan di 8 puskesmas percontohan yang ada di Bandung, Bogor, dan Semarang.

Skrining TBC diperluas dilakukan untuk deteksi dini dan mempercepat pengobatan penderita sehingga pasien bisa lebih cepat dirawat, tidak semakin parah sehingga bisa sembuh lebih cepat, sekaligus mengurangi risiko penularan ke orang lain.

Dalam skrining TBC, masyarakat akan menerima tiga layanan bertahap yakni pemeriksaan rontgen dada, lalu dilanjut dengan pemeriksaan laboratorium tradisional atau tidak di lokasi puskesmas, lalu terakhir engambilan sampel menggunakan metode usap dengan alat tes cepat molekuler (TCM).

Lantas bagaimana alur untuk pemeriksaan TBC di puskesmas? Pertama Anda bisa langsung datang ke puskesmas lalu mengisi data sesuai arahan petugas. Setelah itu ada pemeriksaan gejala dan riwayat penyakit, dilanjut rontgen dada dan uji laboratorium tradisional serta TCM dan ini semua dilakukan pada satu hari yang bersamaan. Jika hasilnya positif, pasien harus langsung mendapat pengobatan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai, aspek krusial pada penyakit TBC adalah fase deteksi awal penyakit ini.

"Permasalahan TBC ada pada fase pendeteksian atau skrining. Jika bisa mendeteksi pasien secara dini dan akurat, proses penyembuhan akan lebih mudah karena obat TBC sudah tersedia,” kata Menkes Budi.

Vaksin TBC

Saat ini,  Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan persetujuan pelaksanaan uji klinik (PPUK) Fase I untuk vaksin tuberkulosis (TB) inhalasi AdTB105K, yang menjadi tahapan penting dalam riset vaksin TB berbasis inovasi terbaru.BPOM menerbitkan PPUK Fase I pada 14 Mei 2025 sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan vaksin tersebut.


Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan inovasi menjadi kunci dalam menekan penyebaran penyakit menular satu ini. 
Terlebih, Indonesia saat ini berada di peringkat kedua dengan beban TBC tertinggi di dunia setelah India, dengan perkiraan lebih dari 1 juta kasus dan 125.000 kematian per tahun.


Vaksin AdTB105K adalah vaksin berbasis vektor adenovirus tipe 5 (Ad5) yang direkayasa untuk mengekspresikan protein fusi 105K dari Mycobacterium tuberculosis dan memiliki tiga antigen utama, yakni Mtb32A, Mtb39A, dan Ag85A.

Vaksin nantinya akan diberikan ke pasien melalui metode inhalasi dan diharapkan mampu merangsang respons imun mukosa, serta sistemik secara lebih maksimal pada saluran pernapasan. Sehingga bisa memberikan perlindungan lebih kuat terhadap risiko infeksi TBC.

Sebelum dilakukan pelaksanaan uji klinik, BPOM juga menggelar inspeksi kesiapan selama dua hari,  pada 6–7 Oktober 2025 guna memastikan fasilitas, tenaga, dan prosedur memenuhi kriteria mutu dan keamanan, terutama karena vaksin ini merupakan produk first-in-human.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon