Begini Tip Hemat LPG ala Chef Igun Gunawan
Senin, 30 Maret 2026 | 06:07 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menghemat energi di tengah kondisi geopolitik yang memicu potensi krisis energi global, termasuk dalam penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dan LPG.
Menyikapi hal tersebut, Technical Chef produsen tepung beras, Chef Igun Gunawan, memberikan sejumlah tip praktis untuk menghemat penggunaan LPG dalam rumah tangga.
Chef Gun, sapaan akrabnya, mengatakan antisipasi krisis energi tidak selalu harus dilakukan melalui langkah besar. Menurutnya, peran masyarakat dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, termasuk dalam aktivitas memasak sehari-hari.
“Banyak orang berpikir krisis energi itu urusan pemerintah atau industri besar. Padahal, dapur rumah tangga juga punya kontribusi besar. Cara kita memasak setiap hari itu menentukan,” ujarnya seperti dilansir dari Antara.
Ia menilai pola memasak masyarakat Indonesia masih belum efisien. Salah satu kebiasaan yang sering terjadi adalah menyalakan kompor sebelum semua bahan siap, sehingga menyebabkan pemborosan gas.
“Tanpa sadar, kita sering buang gas hanya karena tidak siap. Kompor sudah menyala, tetapi masih sibuk potong bahan. Ini terlihat sepele, tetapi kalau terjadi setiap hari, dampaknya besar,” jelasnya.
Chef Gun juga menekankan efisiensi tidak hanya berkaitan dengan waktu, tetapi juga teknik. Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan adalah merendam bahan makanan terlebih dahulu untuk mempercepat proses memasak.
“Teknik sederhana seperti merendam bahan itu sebenarnya sudah lama dikenal, tetapi sering diabaikan. Padahal ini cara paling mudah untuk mempercepat masak tanpa harus menambah waktu pemanasan,” ujarnya.
Selain itu, kondisi kompor juga menjadi faktor penting. Ia mengingatkan banyak rumah tangga tidak menyadari bahwa kompor yang kotor atau tidak terawat dapat menyebabkan pembakaran tidak sempurna.
Menurutnya, bagian tungku pembakaran atau burner yang kotor akibat tumpahan makanan dapat menghambat aliran gas sehingga penggunaan LPG menjadi lebih boros.
“Api yang bagus itu biru. Kalau sudah kuning, berarti ada yang tidak beres. Itu tandanya gas tidak terbakar optimal, dan kita sebenarnya sedang membuang energi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pemahaman penggunaan api dalam memasak. Menurutnya, anggapan bahwa api besar dapat mempercepat proses memasak merupakan hal yang keliru.
“Ini mindset yang harus diluruskan. Api besar justru sering membuat panas tidak merata dan terbuang. Api sedang itu lebih stabil, lebih efisien, dan hasil masakan juga lebih baik,” tegasnya.
Melalui efisiensi energi di dapur, ia berharap dapat memberikan dampak besar jika dilakukan secara kolektif oleh jutaan rumah tangga di Indonesia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Revitalisasi Alun-alun Kota Serang Ditargetkan Rampung Desember 2026




