ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Menjaga Konsistensi Ibadah hingga Akhir Ramadan

Jumat, 14 Maret 2025 | 05:22 WIB
NJ
AB
Penulis: Nurfaizah Jamaluddin | Editor: AB
Ilustrasi Ramadan 2025.
Ilustrasi Ramadan 2025. (B-Universe/Rio Siswono)

Bulan Ramadan diyakini sebagai bulan yang penuh keberkahan. Melimpahnya kemuliaan pada bulan ini menjadikan orang Islam berlomba-lomba memperbanyak melakukan kebaikan. Lebih hebatnya lagi, orang Islam yang dalam kesehariannya enggan mengerjakan salat lima waktu juga ikut serta memakmurkan masjid untuk melaksanakan salat tarawih.  

Sayangnya, sebagian dari mereka merasakan penurunan semangat beribadah ketika memasuki fase-fase akhir Ramadan. Semangat beribadah tidak lagi sebesar fase awal. Masjid-masjid serta pekarangannya yang awalnya tidak cukup luas untuk menampung jemaah salat tarawih, kini hanya tersisa menjadi satu atau dua saf saja. Suara tadarus yang terdengar riuh pada siang hari, tetapi meredup saat malam. Salat fardu yang selalu dikerjakan pada awal waktu secara berjemaah di masjid menjadi sering ditunda dengan sengaja.  

Penurunan semangat ibadah pada Ramadan umumnya mulai terlihat secara bertahap  ketika memasuki fase pertengahan. Pusat keramaian berpindah dari masjid ke pasar-pasar pada siang hari, demikian juga kafe, bioskop, atau tempat-tempat hiburan lainnya pada malam hari. 

Semakin mendekati hari raya Idulfitri, semakin banyak kesibukan yang melalaikan mereka dari ibadah. Para ibu rumah tangga bolak-balik ke pasar untuk membeli perlengkapan Lebaran dan menyiapkan hidangan yang akan disajikan pada hari  raya. Pemuda-pemudi disibukkan oleh agenda buka bersama yang dirangkai dengan reuni sejak petang hingga larut malam. Kebanyakan dari mereka tidak menyayangkan kesempatan beribadah yang ditinggalkan menjelang berlalunya Ramadan. 

ADVERTISEMENT

Fenomena tersebut disebabkan iman yang fluktuatif, bisa naik atau turun. Naik turunnya iman dijelaskan oleh Al-Gazali yang membaginya menjadi menjadi empat macam. 

  1. Iman yang naik terus, yakni iman para nabi dan rasul. 
  2. Iman  yang turun tanpa pernah naik, yakni iman  iblis. 
  3. Iman yang datar, yakni iman para malaikat.  
  4. Iman yang naik turun, yakni iman manusia.

Indikasi dari berkurangnya iman adalah  rasa bosan dan malas untuk beribadah. Hal ini bisa saja terjadi jika seseorang pernah berada  pada fase yang terlalu memaksakan diri untuk beribadah. Padahal, sesuatu yang  sedikit, tetapi konsisten jauh lebih baik daripada banyak tetapi musiman. 

Selain penurunan iman, euforia menyambut Ramadan dan Idulfitri juga bisa menjadi penyebab berkurangnya kuantitas maupun kualitas ibadah ketika memasuki fase pertengahan hingga akhir. Antusiasme beribadah yang pada awalnya termotivasi kebutuhan story di media sosial mulai terkikis; momentum salat tarawih tidak  lagi dianggap menarik untuk dijadikan konten setelah beberapa hari berlalu; postingan di media sosial hanya didominasi oleh keseruan war takjil dan ngabuburit; serta membeli  baju baru untuk persiapan hari raya menjadi prioritas pada akhir ramadan. 

Mereka lupa bahwa esensi puasa adalah menahan hawa nafsu hingga mencapai derajat takwa. Semarak  Ramadan benar-benar telah memperdaya mereka. Amalan yang dilakukan hanya sebatas tren sehingga semangat beribadah tidak mampu bertahan lama.  

Sebagaimana diketahui, setan akan terus menggoda selama kehidupan masih  berjalan. Sekuat apa pun iman seseorang, tetap saja ia akan digoda sebagai ujian atas keistikamahannya. Seseorang yang belum baik akan terus dihasut agar tetap dalam  kejahatannya, sedangkan orang yang telah baik akan dihasut untuk meninggalkan kebaikannya.  

Jika setan tidak mampu menggagalkan manusia untuk berbuat kebaikan, ia akan berusaha  memengaruhi agar niat ikhlas untuk mencari rida Allah berubah menjadi kesombongan dan  keinginan untuk sekadar mendapatkan pujian. Ini disebut dengan cobaan atau fitnah yang Allah sebutkan dalam QS. al-Ankabut 29:2. 

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنۡ يُّتۡرَكُوۡۤا اَنۡ يَّقُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَـنُوۡنَ‏ ٢ 

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata,'Kami telah beriman', sedangkan mereka tidak diuji?” 

Tidak bisa dimungkiri bahwa konsisten dalam kebaikan memang bukanlah hal yang  mudah, tetapi bukan berarti boleh dibiarkan terus-menerus terjadi dari tahun ke tahun dengan penuh kesadaran. Semangat ibadah harus senantiasa diperbarui setiap kali layu. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba menawarkan solusi yang mungkin dilakukan untuk mengatasi antusiasme beribadah yang mulai menurun  untuk meminimalisasi penurunan kualitas maupun  kuantitas amal pada fase akhir Ramadan.  

Berangkat dari realita yang telah dipaparkan, hal yang perlu dilakukan sebagai upaya untuk istikamah, yaitu:

1. Mengatasi Rasa Malas dan Bosan

Mengatasi rasa malas dan bosan dengan ibadah yang  terasa monoton. Agar tidak terjebak dalam posisi ini, seseorang hendaknya mengetahui  kapasitasnya dalam beribadah. Islam mengajarkan keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk ibadah. Keseimbangan dalam praktik-praktik keagamaan inilah yang  sering disebut dengan Islam moderat (wasatiah). Tujuannya agar setiap  orang dapat menikmati proses perubahan menuju lebih baik tanpa paksaan.

Ketika seorang  yang masih lemah imannya, sewaktu-waktu memaksakan diri meningkatkan ibadahnya secara  drastis di luar kebiasaannya, maka sangat mungkin ia akan kembali seperti semula saat mulai  merasa lelah, bahkan lebih kurang dari sebelumnya seakan-akan ia bebas dari pengekangan.

2. Mengatasi euforia berlebihan  

Mengatasi euforia yang berlebihan ketika menyambut Ramadan maupun Idulfitri. Memuliakan Ramadan bukan hanya dengan postingan caption “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa” di media sosial, bermewah-mewah dalam berbuka, ataupun  dengan berbagai agenda buka bersama, mengingat tujuan utama berpuasa adalah agar bertakwa. Dengan demikian, ibadah harus menjadi prioritas utama, tidak bermalas-malasan, dan tidak pula berlebih-lebihan.

Begitu pula dalam menyambut Idulfitri. Hendaknya seseorang tidak  terlalu banyak menghabiskan uang dan waktunya untuk belanja online maupun offline.  Tradisi baju baru setahun sekali setiap kali ramadan tidak harus selalu diterapkan selama masih  memiliki pakaian yang terbaik karena dianggap sebagai tindakan berlebih-lebihan, sedangkan  Islam selalu memerintahkan untuk hidup sederhana sebagaimana dalam firmannya QS Al-A'raf ayat 31:

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَࣖ

"Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki)  masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak  menyukai orang-orang yang berlebihan". 

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa permasalahan konsistensi ibadah menuntut adanya keseimbangan  dan kesederhanaan. Kedua konsep ini banyak ditemukan dalam Al-Qur’an dalam  berbagai aspek. Dalam ruang lingkup ibadah, hendaknya seseorang tidak lalai dan tidak pula berlebih-lebihan, sehingga membuatnya bosan, lelah, bahkan sakit. Penyambutan Ramadan  dan perayaan Idulfitri sebaiknya dilakukan dengan sederhana, serta tidak boros uang dan waktu, sehingga momentum Ramadan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya hingga detik-detik terakhir. 

Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI).

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Jelang Ramadan, Pemerintah Perketat Pengawasan Harga Sapi Hidup

Jelang Ramadan, Pemerintah Perketat Pengawasan Harga Sapi Hidup

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon