Gus Ipul Beri Bantuan Rp 9 juta ke Keluarga Siswa Gantung Diri
Kamis, 5 Februari 2026 | 19:12 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Kementerian Sosial mengevaluasi mekanisme pendataan dan penyaluran perlindungan sosial menyusul meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang diduga mengakhiri hidup akibat persoalan ekonomi keluarga.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyatakan, peristiwa tersebut menjadi momentum memastikan data penerima bantuan tidak sekadar dipahami sebagai angka, melainkan mencerminkan keadilan serta keberpihakan terhadap kelompok rentan.
“Ini menjadi bahan evaluasi bersama. Jangan sampai data hanya dilihat sebagai angka, tetapi di dalamnya ada keadilan dan rasa keadilan,” ujar pria yang akrab disapa Gus Ipul itu seperti dilansir dari Antara, Kamis (5/2/2026).
Siswa SD di Kabupaten Ngada tersebut mengakhiri hidup dengan meninggalkan surat untuk ibunya berinisial MGT (47).
Kementerian Sosial merespons kejadian itu dengan mengirim tim asesmen ke Kabupaten Ngada guna mendalami kondisi keluarga korban sekaligus memverifikasi status sosial ekonomi yang bersangkutan.
Saifullah Yusuf mengonfirmasi korban tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP).
Sementara itu, kakek dan nenek korban terdaftar sebagai penerima bantuan sosial reguler Kementerian Sosial. Namun, bantuan tersebut sempat terhenti dan tidak diterima langsung oleh ibu korban. “Saya belum mengetahui alasan bantuan tersebut sempat terputus,” katanya.
Ia menjelaskan korban tinggal bersama kakek dan neneknya, sedangkan ibunya yang merupakan orang tua tunggal bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima anak. Saat kejadian, korban disebut berada di rumah ibunya.
Gus Ipul menilai kondisi tersebut menunjukkan masih adanya celah dalam mekanisme pemutakhiran data perlindungan sosial di daerah, terutama bagi anak yang berpindah tempat tinggal dan berada di luar satuan keluarga penerima bantuan.
Sebagai tindak lanjut, Kementerian Sosial menyalurkan bantuan kepada keluarga korban senilai Rp 9 juta, terdiri atas santunan sosial Rp 5 juta, bantuan sembako dan nutrisi Rp 1,5 juta, serta bantuan sandang Rp 2,5 juta.
Kementerian Sosial juga memastikan keberlanjutan pendidikan saudara korban melalui program perlindungan sosial yang relevan, salah satunya Sekolah Rakyat.
“Peristiwa di Ngada menegaskan pentingnya penguatan pendataan terpadu serta perluasan jangkauan program perlindungan anak, khususnya di daerah dengan tingkat kerentanan sosial ekonomi seperti Nusa Tenggara Timur maupun wilayah lain,” ujar Menteri Sosial.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




