Wisata Wae Pana Meze Ngada, Relaksasi Alami di Jantung Flores
Senin, 9 Februari 2026 | 08:07 WIB
Bajawa, Beritasatu.com - Pulau Flores memang tak pernah kehabisan cerita. Dari panorama alam yang memikat, udara sejuk pegunungan, hingga kisah manusia yang menggetarkan. Di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, salah satu destinasi yang kini jadi primadona adalah pemandian air hangat Wae Pana Meze di Desa Piga, Kecamatan So’a.
Lokasinya sekitar 20 kilometer dari Kota Bajawa, atau hanya 25-30 menit berkendara. Dari Bandara Turelelo Soa malah lebih dekat lagi, hanya sekitar 1,5 kilometer. Turun pesawat, 5 menit naik kendaraan pengunjung sudah bisa berendam di air hangat alami.
Perjalanan menuju Wae Pana Meze juga jadi bonus wisata tersendiri. Jalan mulus membelah perbukitan hijau khas Flores, udara segar menyapa, dan hamparan alam membuat siapa pun lupa penat kota. Di sekitar lokasi, rumpun bambu, pohon kelapa, dan pepohonan rindang memberi suasana desa yang tenang dan alami.
Air hangat di sini berasal dari Gunung Inielika. Suhunya berkisar 32-35 derajat celsius, hangat suam-suam kuku, nyaman di kulit. Ada tiga kolam, dua di antaranya bisa dipakai berendam. Kedalamannya hanya sepinggang orang dewasa, aman untuk anak-anak dan keluarga.
Tak heran, warga lokal hingga wisatawan luar daerah ramai datang. Selain dipercaya baik untuk kesehatan kulit dan melancarkan peredaran darah, suasananya juga cocok untuk melepas lelah.
Fasilitas pun cukup lengkap. Ada gazebo, toilet, kamar ganti, penjual makanan, hingga area parkir luas. Tiket masuknya ramah di kantong, yakni Rp 5.000 untuk wisatawan lokal dan Rp 10.000 untuk turis asing. Parkir mobil Rp 10.000 dan motor Rp 5.000.
“Di sini pengunjung bebas bawa bekal, bahkan bisa bakar-bakar sendiri. Yang penting jaga kebersihan,” kata Nobertus, pengelola wisata dari BUMDes Morasama. Ia menyebut tempat ini dibangun sejak 2018, sempat terhenti karena pandemi, lalu dilanjutkan kembali pada 2025.
Wisatawan pun puas. Yoni Muwa, salah satu pengunjung, mengaku datang bersama keluarga untuk refreshing. “View-nya bagus, hawanya sejuk, airnya hangat. Hemat biaya dan anak-anak senang,” ujarnya.
Sukma, pengunjung lainnya, memilih Wae Pana Meze karena ramah anak. “Kolamnya tidak dalam, anak-anak bebas main. Harapannya ke depan ada tambahan permainan anak,” katanya.
Namun, di balik pesona alam Ngada, daerah ini juga menyimpan kisah duka. Masyarakat masih mengenang kematian tragis anak YB, warga setempat yang meninggal dalam peristiwa yang sempat menghebohkan publik. Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa di balik indahnya Flores, ada cerita manusia yang penuh liku, antara kehidupan, alam, dan nasib.
Kini, Wae Pana Meze terus berkembang sebagai destinasi wisata keluarga. Pengelola berencana menambah fasilitas agar pengunjung makin betah. Dari berendam santai hingga menikmati kelapa muda yang dipetik langsung dari pohonnya, tempat ini menawarkan pengalaman menyatu dengan alam Flores yang autentik.
Bagi pelancong yang ingin menenangkan pikiran, Ngada bukan hanya soal pemandangan, tapi juga tentang kisah, budaya, dan kehidupan yang berjalan berdampingan--antara keindahan dan cerita duka yang tak terlupa.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




