Pengamat: Kampanye Parpol Masih Mengecewakan

Minggu, 23 Maret 2014 | 15:05 WIB
MS
YD
Penulis: Markus Junianto Sihaloho | Editor: YUD
Calon presiden yang juga Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (dua kiri) berkampanye di lapangan Rejobasuki, Seputih Raman, Lampung Tengah, Lampung, Sabtu (22/3). SP/Joanito De Saojoao.
Calon presiden yang juga Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (dua kiri) berkampanye di lapangan Rejobasuki, Seputih Raman, Lampung Tengah, Lampung, Sabtu (22/3). SP/Joanito De Saojoao. (Suara Pembaruan/SP/Joanito De Saojoao)

Jakarta - Seminggu setelah pelaksanaan kampanye terbuka dilaksanakan, Lingkar Madani (Lima) Indonesia menyatkan sangat wajar bila masyarakat masih mengalami kekecewaan.

Menurut Ray Rangkuti, dari Lima Indonesia, setidaknya ada beberapa fakta yang dapat ditemui terkait kampanye itu.

Yakni kekecewaan dengan masih maraknya terjadi pelanggaran-pelanggaran kuno kampanye terbuka. Antara lain pengerahan anak-anak kecil, konvoi yang melanggar aturan lalu lintas, praktik politik uang kecil-kecilan, penyebaran spanduk dan alat peraga yang menyalahi ketentuan.

"Terhadap pelanggaran-pelanggaran kuno kampanye ini, kita berharap Bawaslu segera menghentikan dan memberi rekomendasi sanksi," tegas Ray di Jakarta, Minggu (23/3).

Kedua, ruang dan panggung kampanye terbuka ternyata tidak dipergunakan secara efektif dalam mengkomunikasikan ide-ide berupa visi-misi dan program partai untuk lima tahun ke depan.

Panggung rapat terbuka lebih banyak didominasi kegiatan hiburan lain semisal kuis, daripada usaha membangun komitmen bersama untuk Indonesia 5 tahun ke depan. Untuk kegiatan seperti ini, perlu diingatkan kembali maksud dan tujuan kampanye yakni penyampaian visi, misi, dan program partai.

"Jadi jika ada panggung kampanye atau izin untuk kampanye yang ternyata prakteknya lebih banyak didominasi kegiatan-kegiatan yang tidak terkait dengan penyampaian visi-misi dan program, sebaiknya kegiatan itu dihentikan oleh Bawaslu atau KPU," tegasnya.

Kegiatan kampanye model parpol masa kini justru menambah kosongnya debat-debat visioner partai politik yang memang sudah terasa sejak awal sepi dari diskusi subtansi kebangsaan. Hingga satu minggu setelah pelaksanaan kampanye terbuka, ruang publik tak sepi dari bayangan apa yang akan dicapai lima tahun kedepan setelah pemilu 2014.

"Apakah kedaulatan pangan kita makin kokoh, pemberantasan korupsi makin intens, kasus Bank Century dibuka dan diselesaikan, sikap mereka atas hutang negara yang makin menumpuk, sikap parpol terhadap HAM, itu semua tak ada," jelasnya.

"Masa depan Indonesia untuk lima tahun ke depan justru gelap di saat ia mestinya dikomunikasikan. Oleh karena itu, kita menghimbau agar dua minggu pelaksanaan kampanye ke depan benar-benar diisi dengan debat-debat subtansial tentang Indonesia."

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon