Properti Jakarta Mampu Bertumbuh 20%
Rabu, 15 Oktober 2014 | 07:51 WIB
Jakarta - Pengembang properti yang tergabung dalam Real Estat Indonesia (REI) DKI Jakarta optimistis mampu bertumbuh 10-20 persen pada 2015. Bisnis properti di Jakarta dinilai masih mampu bertahan dan bertumbuh sekalipun didera isu perlambatan sepanjang 2014.
"Kami tetap optimistis, apapun yang terjadi, kami konsisten membangun apapun yang terjadi di Jakarta ini, meski ada hambatan besar politik, krisis ekonomi, pengaruh ekonomi global, properti tetap akan tumbuh," kata Ketua DPD REI DKI Jakarta Arman Nukman, dalam diskusi Peluang Bisnis Properti 2015, di Jakarta, baru-baru ini.
Menurut Amran, para pengembang properti sudah banyak pengalaman saat menghadapi krisis ekonomi. Para pengembang, kata dia, memiliki berbagai cara untuk penghadapi perlambatan properti, sehingga bisnis properti berjalan dengan baik.
"Selalu ada cara, untuk mensiasati perlambatan properti. Kami optimis pertumbuhan properti terutama di DKI bisa tembus 10 persen. Meskipun tidak sehebat tiga tahun lalu yang mampu bertumbuh 40 hingga 60 persen," kata dia.
Dia mengatakan, optimisme itu mencuat setelah melihat data Bank Indonesia yang menunjukkan perekonomian DKI Jakarta mengalami peningkatan pada triwulan II dibanding triwulan I.
Pada periode itu, katanya, ekonomi Jakarta bertumbuh 6,1 persen (yoy) dari sebelumnya 6,0 persen (yoy). Pertumbuhan tersebut didominasi oleh konsumsi rumah tangga. Sedangkan kinerja investasi masih relatif terbatas. Melambatnya pasar properti, kata dia, merupakan akibat dinamika poliitk selama proses pemilu tahun 2014.
"Proyeksi pertumbuhan ekonomi Jakarta berkisar 6,0 persen hingga 6,4 persen (yoy) serta masih kuatnya daya beli dan konsumsi masyarakat menengah atas, merupakan indikator pertumbuhan yang diikuti oleh perbaikan investasi," kata dia.
Amran menjelaskan, pada semester pertama 2014 terjadi perlambatan bisnis properti karena adanya pemilihan umum (pemilu). Dalam periode itu para pengembang dan investor properti menahan diri.
Selain itu, katanya, sedikit terganjal oleh aturan Bank Indonesia yang memberlakukan aturan Loan to Value (LTV) pada tahun 2013. Hal itu, katanya, memaksa kelas menengah mengambil aksi wait and see. "Kedua faktor ini sedikit banyak mengganjal laju pertumbuhan properti di Indonesia," kata dia.
Di sisi lain, ujar dia, properti juga masih melamban karena belum dilantiknya presiden terpilih Joko Widodo. Selain itu, belum diumumkannya kabinet Jokowi membuat banyak pengembang belum berani mengambil keputusan investasi maupun menjual propertinya.
Kondisi tersebut, katanya, ditambah lagi dengan rencana kenaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan tarif tenaga listrik (TTL) yang bakal berdampak pada biaya transportasi. Hal itu, jelasnya, membuat harga jual properti bakal naik.
"Mungkin kalau harga material bisa ditekan kenaikkannya, tetapi kalau biaya transportasi sulit dibendung dan pasti bakal naik," kata dia.
Karena itu, kata Amran, pihaknya berharap pemerintahan Jokowi bisa berjalan dengan baik. Lalu, situasi politik aman dan penunjukkan kabinet berjalan bagus, sehingga bisa membangkitkan pertumbuhan sektor properti lebih cepat lagi.
"Sekarang ini masih menahan diri karena masih ada gonjang-ganjing politik, pemilihan pimpinan DPR, MPR, pelantikan presiden, dan pengumuman kabinet. Kami harapkan ini bisa berjalan dengan baik dan pasar juga bisa berjalan baik sehingga properti akan tumbuh lebih cepat lagi," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




