Indonesia Berpotensi Miliki Perusahaan Internet Setara Apple
Minggu, 7 Desember 2014 | 16:59 WIB
Jakarta - Pemilik toko online Tokopedia, William Tanuwijaya optimismis perusahaan Indonesia bisa berkembang selevel perusahaan asal Silicon Valley, Apple Inc.
"Saat pertama mendirikan Tokopedia, banyak investor yang meminta saya pindah ke Singapura lantaran regulasi (perijinan dan pajak) di Indonesia yang belum jelas, tapi saya bersikukuh, saya bilang kami akan bangun perusahaan Silicon Valley di Indonesia," katanya.
Keyakinannya berbuah hasil saat investor dari SoftBank dan Sequoia Capital berkenan menginvestasikan US$ 100 juta pada Oktober lalu. William kemudian berniat mengalokasikan dana tersebut untuk menggandakan karyawannya dari 150 karyawan menjadi 1.000 karyawan dan membangun kantor bergaya kampus Google hingga 2016 mendatang.
William mengatakan pasar jual-beli online di Indonesia sangat menjanjikan. Dalam sepuluh tahun terakhir, pertumbuhan pengguna internet Indonesia berlipat menjadi 68 persen total penduduk sebesar 250 juta jiwa, seiring bertambahnya jumlah penduduk kelas menengah dan ketersedian telepon seluler murah dari Tiongkok.
"Frost & Sullivan memperkirakan 80 persen penduduk Indonesia menggunakan telepon seluler yang nilainya kurang dari Rp 3 juta dan diperkirakan akan meningkat hingga 120 persen pada tahun depan," katanya.
Hal tersebut akan mendorong revolusi pasar retail di Indonesia, diperkirakan pendapatan dari bisnis jual beli online naik menjadi US$ 10 miliar pada 2016 dari US$ 1 miliar pada 2013 lalu.
Potensi pasar retail online ditangkap oleh perusahaan internet Amerika Serikat (AS) seperti Facebook, Twitter dan Uber yang berencana membuka kantor di Jakarta, menyusul perusahaan internet Jerman Zalora dan Lazada.
"Twitter kabarnya segera membuka kantor baru di Jakarta pada Januari mendatang, konglomerasi lokal seperti Bakrie, Hartono dan Widjaja juga dikabarkan tengah gencar berinvestasi di bisnis start-up," katanya.
Saat ini, industri retail online Indonesia baru mencapai tahap awal dibanding India dan Tiongkok. Kurangnya infrastruktur sistem pembayaran online, penggunaan email, regulasi serta insinyur terampil menjadi potensi besar yang perlu digali.
"Ada begitu banyak peluang, apalagi dengan pemikiran maju dari pemerintah yang baru," tutupnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




