Tak Hanya Jakarta, Barito Utara Juga Kena Banjir
Senin, 9 Februari 2015 | 04:55 WIB
Muara Teweh - Sejumlah kawasan dataran rendah di Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, terendam banjir akibat meluapnya Sungai Barito yang diguyur hujan dalam beberapa hari terakhir.
"Sejumlah ruas jalan dan kawasan pemukiman mulai terendam banjir," kata seorang warga Muara Teweh, Syarbani, Senin (9/2).
Ruas jalan di Muara Teweh yang terendam banjir di antaranya sebagian Jalan Merak dan Imam Bonjol dengan ketinggian air sekitar 40 sentimeter.
Selain itu banjir juga merendam Jalan Dahlia, Cempaka Putih dan Teratai dengan ketinggian air 15 sentimeter.
Saat ini, kata Syarbani warga mulai berkemas-kemas untuk mengangkut sejumlah barang rumah tangga ke tempat yang lebih aman dari banjir musiman ini.
"Air diperkirakan terus naik, karena di wilayah Barito Utara dan kawasan hulu atau di Kabupaten Murung Raya hujan terus turun," katanya.
Selain Muara Teweh, kawasan yang terendam banjir musiman ini juga dipastikan merendam sejumlah kawasan yang berada di pinggiran Sungai Barito di antaranya Kelurahan Jambu Kecamatan Teweh Baru, dan desa-desa yang berada di dataran rendah serta Kecamatan Montallat.
Naiknya air Sungai Barito sepanjang 900 kilometer yang kawasan hulunya berada di wilayah Kabupaten Murung Raya, Kalteng dan bermuara di laut Jawa, ini juga telah mengganggu transportasi sungai terutama angkutan kapal dan tongkang bertonase besar.
"Semua angkutan tambang dan kayu dilarang berlayar melewati jembatan karena permukaan air Sungai Barito di atas normal," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Lalulintas Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (LLASDP) pada Dishub Barito Utara, Nurdin.
Kenaikan debit air di pedalaman Sungai Barito itu akibat curah hujan yang cukup tinggi terutama di wilayah utara Kabupaten Murung Raya dan sebagian lainnya karena air sungai meluap di kawasan Kabupaten Barito Utara.
Ketinggian air permukaan Sungai Barito pada Senin siang yang tercatat di skala tinggi air (STA) di Muara Teweh mencapai 12.00 meter menunjukkan angka di atas normal sehingga tongkang dan kapal besar tidak bisa melintas di bawah jembatan sepanjang 270 meter yang dibangun pada 1990 itu.
"Untuk sementara transportasi sungai khususnya angkutan kapal bertonase besar dihentikan sampai kondisi air sungai turun minimal batas STA 11,50 meter," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




