Mahdian Nur Nasution

Wisata Religi Membuat Jiwa Tenang

Minggu, 27 September 2015 | 10:16 WIB
IH
AB
Penulis: Indah Handayani | Editor: AB
Presiden Direktur Rumah Sunatan Indonesia, Dr Mahdian Nur Nasution, SpBS
Presiden Direktur Rumah Sunatan Indonesia, Dr Mahdian Nur Nasution, SpBS (Istimewa)

Dokter Mahdian Nur Nasition SpBS mengaku sangat hobi berwisata religi bersama keluarganya. Hal tersebut dilakoninya karena tidak hanya menyegarkan fisik, tapi juga menjadikan jiwa keluarganya menjadi lebih tenang dan bersahaja.

Di tengah kesibukannya sebagai dokter spesialis bedah saraf, serta pengusaha klinik khitan dan wasir, dr Mahdian mengaku selalu menyempatkan diri untuk menjalani hobi berwisata religi bersama keluarga. Hal tersebut perlu dijalani mengingat kegiatannya yang menyita banyak waktu.

Bahkan, ia kerap harus tetap melayani pasien meski pada saat akhir pekan, ketika orang lain pada umumnya libur. Karena, sebagai dokter bedah saraf, dr Mahdian sering kali menangani kejadian yang tak terduga, misalnya kecelakaan dan pasien yang terkena stroke.

"Jadi, saya membutuhkan waktu berwisata bersama keluarga. Tapi, saya lebih banyak melakukan wisata religi. Misalnya, umrah yang selalu rutin kami lakukan setiap tahun," ungkap pemilik dan presiden direktur Rumah Sunatan Indonesia tersebut di Jakarta, belum lama ini.

Setiap kali menjalani wisata religi, ia mengaku tidak hanya mendapatkan penyegaran fisiknya, tapi juga rohaninya menjadi lebih tenang. Hal itu didapat karena semakin mendekatkan diri dan keluarganya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selain umrah, wisata religi domestik pun kerap ia jalani bersama keluarganya. Salah satu tempat wisata religi yang disukai bersama keluarganya adalah berkunjung ke Daarud Tauhid milik Aa Gym di Bandung.

"Kami juga kerap mengajak kerabat keluarga kami untuk berwisata. Di tengah kegiatan berwisata, kami isi dengan kegiatan rohani, misalnya, tausiyah," paparnya.

"Smart Klamp"
Mahdian mengaku sebelumnya tidak pernah terlintas di benaknya untuk menjadi pengusaha klinik khitan dan wasir. Sebab, sebagai dokter, ia hanya ingin memberikan layanan sunat yang jauh lebih baik kepada para pasiennya. Sebab, ia mengalami sendiri sewaktu masih kanak-kanak, sunat merupakan hal yang paling tidak enak dan menyeramkan.

"Saya ingin, Indonesia yang sekitar 90 persen Muslim ini memiliki aktivitas sunat yang nyaman, enggak jahit-menjahit, prosesnya lebih cepat, dan bebas infeksi. Akhirnya, saya bertemu dengan teknologi smart klamp," ujarnya

Teknologi tersebut merupakan alat khitan sekali pakai. Dengan alat tersebut, kegiatan menyunat tak lagi menyertakan proses menjahit, atau memerban alat kelamin. Risiko pada pasien pun berkurang dan bisa langsung beraktivitas setelah disunat.

Smart klamp pun kian melambungkan nama Mahdian sebagai dokter sunat. Pasiennya pun semakin bertambah.
Lalu, Mahdian mendirikan Rumah Sunatan. Desain Rumah Sunatan pun jauh dari kesan menakutkan bagi anak-anak karena dilengkapi ruangan khusus tempat bermain. Di situ, anak-anak bisa menunggu sambil bermain game atau menonton televisi.
Usahanya pun terus berkembang.

"Kini, Rumah Sunatan mempunyai sekitar 25 cabang di Jabodetabek dan daerah. Tiap cabang menerima sekitar 50-100 anak jika musim sunat, atau saat liburan sekolah tiba," paparnya.

Saat ini, Rumah Sunatan sudah beroperasi di Pulau Jawa, Sumatera, Batam, dan Sulawesi.

Rumah Wasir
Selain Rumah Sunatan, Mahdian mempunyai bisnis klinik lainnya yang masih berhubungan dengan dunia kesehatan, yaitu Rumah Wasir. Keduanya menggunakan teknologi terbaru yang terbilang belum ada di Indonesia, yaitu teknologi biological electrical impedance automeasurement (BEIM) untuk mengatasi wasir. Interventional pain management (IPM) juga diterapkan guna menekan nyeri wasir hingga ke titik nadir.

Lebih lanjut dr Mahdian menjelaskan, berdasarkan studi American Society of Interventional Pain Physicians (ASIPP), IPM merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tentang diagnosis dan pengobatan gangguan nyeri. Upaya yang dilakukan dengan menerapkan teknik-teknik intervensi dalam menangani nyeri subakut, kronik, persisten, dan nyeri yang sulit diatasi, baik secara independen maupun bersama dengan terapi lainnya.

"IPM dilakukan oleh dokter spesialis anestesi, neurologi, bedah saraf, ortopaedi, atau terapi fisik dan rehabilitasi, yang telah berpengalaman melakukan pelatihan di bidang manajemen nyeri," katanya.

Pada awalnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pasien secara menyeluruh dan mengevaluasi riwayat medis pasien, serta melakukan sejumlah pemeriksaan tambahan. Setelah didapatkan kesimpulan, barulah dokter membuat rencana pengobatan.

Rencana pengobatan umumnya mengombinasikan terapi intervensi, rehabilitasi fisik, dan okupasi, serta dukungan psikososial. "Dalam IPM, banyak terapi yang bisa diterapkan, tergantung dari nyeri yang dirasakan," ujarnya.

Mahdian menyebutkan salah satu terapi yang dilakukan dalam IPM adalah radiofrequency ablation. Terapi tersebut membuat ujung saraf penyebab nyeri dipanaskan menggunakan aliran listrik yang dihasilkan oleh gelombang radio, sehingga rasa nyeri di daerah tersebut dapat dihentikan.

Namun, lanjutnya, program manajemen nyeri intervensi tidak hanya bertujuan untuk meredakan berat dan lamanya nyeri. Hal itu juga untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam menjalani aktivitas sehari-hari dan menghadapi datangnya nyeri.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon