Pemkot Bekasi Tampung 21 Warga Eks Gafatar di Liposos Bulak Kapal
Selasa, 2 Februari 2016 | 16:30 WIB
Bekasi - Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi, Jawa Barat, mengungkapkan, terdapat sekitar 21 warganya yang ikut kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Kalimantan Barat. Kini, ke-21 warga tersebut telah tiba di Lingkungan Pondok Sosial (Liposos) Kementerian Sosial (Kemensos) di Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, sebelum dikembalikan kepada keluarganya.
Menurut keterangan Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bekasi, Agus Darma, kedatangan 21 warga Kota Bekasi eks Gafatar tiba di Liposos Kemensos pada Senin (1/2) sekitar pukul 17.05 WIB.
"Kita tampung dalam beberapa ke depan dan melakukan pembinaan. Setelah itu, kita kembalikan kepada keluarganya masing-masing," kata Agus Darma, Selasa (2/2).
Dia mengatakan, pemerintah daerah memastikan kepulangan mereka ke tempat asalnya dapat diterima masyarakat.
"Hanya ada satu warga yang ditolak karena sudah terlalu lama meninggalkan rumah kontrakannya, sudah empat tahun. Begitu dia mau balik kembali ke rumah kontrakan yang lama, ternyata mendapat penolakan. Ini yang sedang kita pertimbangkan, nanti kita kembalikan kepada keluarganya," katanya.
Dia tidak merinci lebih detail warga yang ditolak tersebut. Meski begitu eks Gafatar yang lainnya, kata dia, telah diterima anggota keluarganya. "Mereka masih memiliki anggota keluarga dan kita kembalikan kepada keluarganya. Mereka tetap menerima," katanya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Bekasi Ahmad Syaikhu, mengatakan pemerintah daerah mencari solusi terhadap 5 kepala keluarga (KK) atau sekitar 21 jiwa eks Gafatar yang tinggal di Kota Bekasi. Asalkan, mereka mau meninggalkan ajaran-ajaran yang menyimpang.
"Kita mencari solusi untuk pekerjaan dan memperbesarkan anak, mudah dibantu. Asal kuncinya, bapak-bapak dan ibu-ibu ingin berubah dalam kaitan lebih baik dan kualitas pendidikan anak lebih baik," kata Ahmad Syaikhu.
Menurutnya, mereka semua memiliki anggota keluarga dan diharapkan dapat kembali ke lingkungannya bersama anggota keluarga yang lain. "Pemerintah Kota Bekasi berharap agar mereka tidak kembali lagi terhadap unsur penyimpangan," katanya.
Warga yang merupakan Eks Gafatar tersebut, jelas Agus, akan ditampung selama tiga atau empat hari ke depan di Liposos Bulak Kapal tersebut.
Terpisah, Ahmad Fauzi, 25 tahun, warga asal Purwodadi, Jawa Tengah, mengaku ikut ke Kalimantan Barat sejak 22 Oktober 2015 lalu.
Anak ketujuh dari delapan bersaudara ini, awalnya masuk Gafatar sejak 2013 lalu. Saat itu, pria berkaca mata ini masih menjadi buruh pabrik ban di Tangerang, Banten.
"Saya ikut organisasi ini karena kerja nyata yang telah dilakukan organisasi ini seperti donor darah, bakti sosial, dengan mengumpulkan uang secara mandiri untuk membantu orang lain," ujar Ahmad Fauzi, di penampungan Asrama Haji Embarkasi Jakarta-Bekasi, Bekasi Selatan.
Selama beberapa bulan di Kabupaten Melawi, Kecamatan Elahilir, Kalimantan Barat, Ahmad bercocok tanam dengan anggota kelompok tani lainnya untuk menyambung hidupnya. Tidak hanya bertani, ada juga kelompok masyarakat yang mengembangbiakan ikan air tawar seperti lele dan mujair.
"Awalnya, saya masuk kelompok ini terkesan dengan budaya gotong-royong yang diperlihatkan para anggotanya," kata Ahmad.
Dia mengungkapkan, seharus pemerintah mendukung program ini. "Tidak benar kita membuat negara baru. Tidak ada diskusi tentang negara baru. Kita hanya diskusi tentang pertanian. Saya lebih senang disana, meski masih hutan tapi tetap lebih enak disana," imbuhnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




