Indonesia dan 3 Negara OKI Jalin Kerja Sama Capacity Building
Minggu, 6 Maret 2016 | 23:02 WIB
Jakarta – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) ke-5 yang diadakan di Jakarta, pada 6-7 Maret 2016 tidak hanya membahas nasib Palestina melainkan menjalin pertemuan bilateral dengan negara lain. Dalam kesempatan itu, Indonesia berencana melakukan kerja sama di bidang capacity building dengan tiga negara anggota OKI, Mesir, Afghanistan, dan Gambia.
Menurut Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno LP Marsudi, ada dua hal yang dibahas dengan Mesir, yakni untuk meningkatkan kerja sama pendidikan dan terkait dengan kunjungan Grand Syeikh Al-Azhar.
"Indonesia baru selesai membagun asrama Indonesia pertama di Al-Azhar dengan jumlah 3.000 siswa dan itu jumlah yang terbesar di Mesir. Hal ini membawa pesan komitmen untuk menguatkan pendidikan dan beasiswa ke Al Azhar," kata Retno di Jakarta, Minggu (6/3).
Retno sendiri sangat mengapresiasi komitmen Mesir untuk menambah kuota mahasiswa Indonesia di Mesir, serta mendorong peningkatan kerja sama pendidikan dan keagamaan. Ia juga menegaskan hubungan dekat antara Indonesia dan Mesir, bahkan Mesir memiliki peranan sangat spesial karena menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.
Menlu Mesir Sameh Soukry berharap hubungan Mesir dengan Indonesia terutama dalam bidang ekonomi dan pendidikan bisa lebih kuat lagi. "Kami akan berkomitmen untuk tetap melanjutkan kerjasama ini dengan Indonesia," tambah dia.
Sedangkan rencana kerja sama RI dan Afghanistan, Menlu Retno dengan Menlu Salahuddin Rabbani membahas soal pelatihan bersama.
Bahkan, kedua negara juga menandatangani Nota Kesepahaman Diplomatic Training and Education Cooperation, di mana diharapkan dapat meningkatkan peranan Indonesia dalam mendukung proses perdamaian dan pengembangan diplomasi di Afghanistan melalui pelatihan serta pendidikan diplomat.
Indonesia dan Afghanistan sudah memiliki total 44 program pelatihan bersama dengan 353 partisipan, program pelatihannya mencakup pelatihan untuk polisi hingga para anggota diplomatik.
"Kami membicarakan MOU (nota kesepahaman) mengenai pelatihan bagi diplomatik Afghanistan. Kedua negara sudah lama melakukan pelatihan semacam ini dan di waktu mendatang akan diadakan penambahan pelatihan," tutur Retno.
Selain itu, lanjut Retno, Indonesia sekarang sedang membangun Indonesia Islamic Center (IIC) di gedung Fatiha, sekitar 500 meter dari lokasi pembangunan masjid, di daerah Ahmad Shah Baba Mina, Kabul, Afghanistan.
Pembangunan IIC ini diharapkan dapat mendukung proses perdamaian dan rekonsiliasi di Afghanistan dan mendorong kerja sama akademisi Islam dan ulama kedua negara untuk mempromosikan pemahaman Islam moderat.
Sedangkan dalam kerja sama dengan Gambia, Retno dan Menlu Gambia Neneh Macdouall-Gaye membahas soal penguatan pada kerja sama capacity building khususnya dalam peningkatan produksi beras dan agro-processing.
Retno menjelaskan, salah satu bentuk kerja sama adalah pada 2014, Indonesia memberikan 5 traktor tangan kepada Agricultural Rural Farmer Training Center (ARFTC) di Jenoi, Gambia.
"Kami merasa cukup bahagia, karena pasca pertemuan sebelumnya, pada April 2015 di sini, terjadi perkembangan dan penguatan dalam hubungan bilateral kedua negara, termasuk dalam pengembangan capacity building, budaya, dan sejumlah isu lainnya," ucap Retno.
Selain itu, Retno juga mengatakan membahas mengenai kemungkinan kerjasama capacity building soal persiapan Gambia menjadi tuan rumah OKI pada 2018. "Kami juga membahas satu isu yang tertunda mengenai komite bersama kedua yang harusnya dilakukan di Gambia. Kami aan membahas mengenai waktu yang tepat untuk melakukan pertemuan tersebut.
Pihak Gambia, terang Retno, juga sudah bertemu dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, serta mengundang Kadin untuk berpartisipasi penuh dalam penguatan kerjasama ekonomi antara kedua negara.
Macdouall-Gaye mengatakan pertemuan dengan Presiden Kadin Rosan Roeslani dimaksudkan ingin mendorong investor Indonesia untuk datang ke Gambia karena iklim di gambia sangat matang untuk investasi, memiliki banyak investasi peluang dan banyak konsesi.
"Kami ingin Indonesia untuk datang dan membangun bisnis di Gambia dan sebaliknya serta berkelanjutan, karena sangat penting bagi hubungan dua negara," ucap dia
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




