Bank Sampah di Palembang Punya Puluhan Nasabah
Sabtu, 14 April 2012 | 22:10 WIB
"Yang menyetor itu anak-anak ditemani orang tua mereka untuk mengajarkan anak-anak menabung."
Sebanyak 75 nasabah sudah menabung di bank sampah Bahagia Mandiri dengan menyetorkan sampahnya di bank tersebut.
Para nasabah bank sampah ini warga di lingkungan Perumahaan Griya Bahagia, kata Direktur Bank Sampah Bahagia Mandiri, Sukron Nimah, di Palembang, hari ini.
Para nasabah itu menyetor kardus, kertas koran, dan botol aqua.
"Yang menyetor itu anak-anak ditemani orang tua mereka untuk mengajarkan anak-anak menabung," kata Sukron.
Di bank sampah itu pula mereka mengelola bungkus mi untuk dibuat barang-barang seperti baju rompi, tempat tisu, topi, gantungan kunci, bros, tas, bantal, dan lainnya.
Tujuan dari itu untuk mengurangi sampah-sampah di Kota Palembang.
Barang-barang itu nantinya bisa dijual, seperti topi dijual dengan harga Rp80 ribu per buah, kemudian untuk bros dijual dengan harga Rp5 ribu per buah.
"Untuk bros ini harganya murah dan pada waktu pameran di Jakarta juga banyak yang membelinya," kata Sukron.
Sekarang disebut sudah banyak pesanan topi dari dinas seperti Dinas Kebersihan Kota Palembang untuk dipakai oleh tenaga kebersihan.
Topi, tas, tempat tisu dan baju rompi itu terbuat dari bungkus mie yang dicacah halus dari masyarakat setempat.
Sedangkan bungkus mi itu sudah dicacah kecil-kecil maka dalam satu kilo atau sebanyak 900 lembar, mereka mau membelinya dengan harga Rp10 ribu. Sementara untuk sampah dari pasar seperti sisa-sisa sayuran dibuat kompos.
Saat ini bank sampah itu memiliki 7-8 orang karyawan.
Selain bank sampah Bahagia Mandiri, di Palembang juga ada empat bank sampah lainnya, yakni Bank Sampah Hikmah Sejahtera, Bank Sampah Berdikari, Bank Sampah Kencana, dan Bank Sampah Kenanga.
Sebanyak 75 nasabah sudah menabung di bank sampah Bahagia Mandiri dengan menyetorkan sampahnya di bank tersebut.
Para nasabah bank sampah ini warga di lingkungan Perumahaan Griya Bahagia, kata Direktur Bank Sampah Bahagia Mandiri, Sukron Nimah, di Palembang, hari ini.
Para nasabah itu menyetor kardus, kertas koran, dan botol aqua.
"Yang menyetor itu anak-anak ditemani orang tua mereka untuk mengajarkan anak-anak menabung," kata Sukron.
Di bank sampah itu pula mereka mengelola bungkus mi untuk dibuat barang-barang seperti baju rompi, tempat tisu, topi, gantungan kunci, bros, tas, bantal, dan lainnya.
Tujuan dari itu untuk mengurangi sampah-sampah di Kota Palembang.
Barang-barang itu nantinya bisa dijual, seperti topi dijual dengan harga Rp80 ribu per buah, kemudian untuk bros dijual dengan harga Rp5 ribu per buah.
"Untuk bros ini harganya murah dan pada waktu pameran di Jakarta juga banyak yang membelinya," kata Sukron.
Sekarang disebut sudah banyak pesanan topi dari dinas seperti Dinas Kebersihan Kota Palembang untuk dipakai oleh tenaga kebersihan.
Topi, tas, tempat tisu dan baju rompi itu terbuat dari bungkus mie yang dicacah halus dari masyarakat setempat.
Sedangkan bungkus mi itu sudah dicacah kecil-kecil maka dalam satu kilo atau sebanyak 900 lembar, mereka mau membelinya dengan harga Rp10 ribu. Sementara untuk sampah dari pasar seperti sisa-sisa sayuran dibuat kompos.
Saat ini bank sampah itu memiliki 7-8 orang karyawan.
Selain bank sampah Bahagia Mandiri, di Palembang juga ada empat bank sampah lainnya, yakni Bank Sampah Hikmah Sejahtera, Bank Sampah Berdikari, Bank Sampah Kencana, dan Bank Sampah Kenanga.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat




