Penyelenggaraan Mudik Tahun Ini Dinilai Lebih Baik
Kamis, 29 Juni 2017 | 15:43 WIB
Jakarta - Penyelenggaraan mudik pada Lebaran 1438 Hijriah dinilai sudah lebih baik daripada tahun lalu. Sejumlah jalan tol baru yang dibuka pemerintah pusat dirasakan sangat membantu penyelenggaraan mudik sehingga tak terjadi kemacetan parah seperti tahun lalu.
Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, menuturkan, penyelenggaraan mudik pada tahun ini lebih baik lantaran jumlah pemudik yang tidak sebanyak tahun lalu. Penurunan jumlah pemudik ini dikarenakan banyak orang yang memilih tidak mudik karena kepentingan dan kebutuhan lain yang jauh lebih utama seperti memasukkan anak ke sekolah yang akan dimulai pada pertengahan Juli nanti.
"Ada banyak kebutuhan. Alokasi keuangan juga diutamakan untuk sekolah," kata Agus kepada Suara Pembaruan, di Jakarta, Kamis (29/6).
Jumlah pemudik yang turun ini, lanjut Agus, juga dibarengi dengan semakin membaiknya penyelenggara mudik dalam melakukan tugasnya.
"Misalnya, ketegasan Kakorlantas Polri, kinerja PT KAI yang makin membaik dalam menyediakan sarana kereta api, bagitu pula dengan bandara yang terkoneksi di terminal tiga serta pemilik tiket online yang tidak perlu antre panjang," kata Agus.
Hal yang sama, kata Agus, untuk mudik dengan jalur laut, dimana kapal laut sudah cukup membaik meski masih sedikit mengkhawatirkan untuk keselamatan namun Agus meyakini tak ada kendala berarti terkait mudik di jalur laut.
"Saya fair saja menilainya. Tahun ini memang lebih baik. Saya apresiasi Kementerian Perhubungan dan juga segenap penyelenggara mudik," kata Agus.
Menyoal tentang On Board Unit (OBU), dikatakan Agus, saat ini belum banyak gerbang tol yang terpasang OBU. Seharusnya, lanjut dia, untuk kedepannya OBU diperbanyak.
"Namun, pada satu sisi, jika OBU ditambah maka risikonya adalah akan makin banyak karyawan yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Ini tentu berdampak pada akan makin banyaknya pengangguran yang tentunya sangat mengkhawatirkan," jelasnya.
Agus juga menyoroti perihal dominasi Bank Mandiri yang menjadi pemain tunggal dalam OBU dan juga pintu lintasan non tunai lainnya. "Mandiri tidak boleh menguasai. Harusnya semua bank punya akses untuk memiliki layanan serupa," ujar Agus.
Sementara itu, pengamat Transportasi Universitas Indonesia (UI), Tri Cahyono, menuturkan, kinerja Jasa Marga sebagai salah satu operator penyelenggara mudik dinilai sudah membaik jika dibandingkan tahun lalu. Demikian pula dengan transportasi menggunakan kereta api, jalur laut dan udara.
Namun, dia memberikan catatan bahwa masih terdapat sejumlah ruas jalan rusak di Priangan Timur yakni di wilayah Nagrek dan Limbangan. "Jalan di lokasi tersebut berbelok belok dan banyak aktivitas penduduk sekitar. Jadi harus hati-hati," tutur Tri.
Tri menilai, koordinasi antar penyelenggara mudik saat ini sudah semakin baik sehingga mudik dapat berjalan lancar meski masih terdapat kemacetan walau tak terlalu parah. Pembukaan sejumlah ruas jalan tol baru juga sangat mendukung kelancaran arus mudik.
"Jawa Tengah saya nilai sudah longgar. Ada jalan darurat fungsional dan juga ada sejumlah jembatan yang membantu memperlancar arus seperti di Demoleng," kata dia.
Tri juga menyoroti kemungkinan penggalakkan jalur laut. Misalnya untuk rute Jakarta-Semarang atau Jakarta-Surabaya. "Ini banyak dilupakan. Padahal untuk pemudik motor, jalur laut ini lebih maksimal karena bisa mengangkut motor juga," kata Tri.
Menanggapi tentang belum maksimalnya OBU, Tri mengatakan, masyarakat Indonesia belum terbiasa menggunakan pembayaran non tunai. Padahal jika membayar tol dengan menggunakan non tunai dapat meminimalkan antrean di pintu tol.
"Kalau menggunakan OBU atau pintu otomatis lainnya hanya butuh satu sampai tiga detik saja. Sedangkan dengan tunai bisa menghabiskan waktu sembilan hingga 10 detik," papar Tri.
Pembayaran non tunai kembali kepada budaya banga ini yang memamg belum terbiasa dengan hal hal non tunai. Namun semua itu bisa diatasi secara perlahan namun pasti yakni dengan memperbanyak segala sistem pembayaran dengan non tunai seperti misalnya yang kini sudah berlaku di Bus Transjakarta dan juga tiket multi trip commuter line.
"Masalah pembudayaan dan pembiasaan saja. Butuh proses dan waktu. Lama kelamaan akan terbiasa jika makin sering melakukan transaksi non tunai," pungkas Tri.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




