RBT Inisiator Reklamasi Tambang Berkelanjutan

Minggu, 20 Agustus 2017 | 10:53 WIB
RP
B
Penulis: Rangga Prakoso | Editor: B1
Ilustrasi timah.
Ilustrasi timah. (ist)

BANGKA – PT Refined Bangka Tin (RBT) meluncurkan program reklamasi berkelanjutan "Green for Good". Program ini merupakan konservasi lahan untuk mengembalikan fungsi lahan bekas tambang timah yang sudah tidak produktif.

Direktur RBT Reza Andriansyah mengatakan, sebanyak 50 hektar bekas tambang akan digunakan sebagai kawasan konser vasi lahan, agrikultur, agrowisata, dan eco-education. Lahan tersebut terletak di Desa Penyamun, Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka.

"Kami ingin menjadi inisiator reklamasi berkelanjutan dengan merevitalisasi lahan dan membuat lahan tersebut bermanfaat bagi masyarakat setempat," kata Reza dalam jumpa pers di Bangka, Selasa (15/8).

Reza menuturkan, pada tahap pertama, lahan seluas 10 hektar menjadi program percontohan berbasis riset. Lahan-lahan ini dikembangkan menjadi lahan produktif agrikultur dengan tanaman pangan bernilai ekonomis seperti jeruk kunci, padi, tomat, melon, pisang, lada, dan lain-lain.

Selain itu, lahan tersebut akan juga ditanami dengan tanaman hutan seperti sengon."Reklamasi berkelanjutan ini untuk memberi sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat di sekitar tambang," ujarnya.

Dikatakannya program penanaman di lahan 10 hektar itu akan berlangsung hingga akhir tahun ini. Sehingga, pertengahan tahun depan hasil panen sudah bisa dirasakan oleh masyarakat. Status lahan direncanakan berubah menjadi Hak guna Usaha (HgU) Koperasi Desa.

Hanya saja Reza enggan membeberkan jumlah biaya yang digelontorkan untuk menjalankan program reklamasi berkelanjutan ini. "Ini masih tahap pilot project. Tapi RBT berkontribusi dalam biaya riset," ujarnya.

RBT yang didirikan pada 2007 menjadi salah satu produsen timah batangan (tin ingot) terbesar di Indonesia. Adapun kapasitas produksi hingga 2.000 ton setiap bulan.

Di tempat yang sama, gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman mengarahkan agar reklamasi yang dilakukan itu harus memberikan hasil. Pasalnya, selama ini hanya pada saat awal saja perusahaan tambang berkomitmen melakukan. Namun beberapa bulan kemudian program tersebut terabaikan dan lahan reklamasi pun tak terurus.

Dia menyambut baik upaya yang dilakukan oleh RBT. "Banyak reklamasi telah kita lakukan tetapi selalu gagal di tengah jalan. Hari ini mau reklamasi, tahun depan gundul lagi. gundul bukan karena kenapa-kenapa,tapi karena memang tidak diurus. Saya menyambut baik pola atau metode yang akan dilaksanakan oleh RBT," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) Jabin Sufianto mengungkapkan pihaknya sudah melakukan penggodokan terkait peta jalan penambang timah. Upaya mengatasi tambang ilegal sudah menjadi isu yang lama dicarikan solusi. "Mitigasi mencoba ada industri lainnya untuk membujuk ada bisa juga mata pencaharian lain di luar dunia pertimahan saja," ujarnya.



rbt

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon