81 Wartawan Tewas Sepanjang 2017

Selasa, 2 Januari 2018 | 12:50 WIB
UW
UW
Penulis: Unggul Wirawan | Editor: WIR
Sejumlah wartawan membentangkan poster saat aksi solidaritas menolak kekerasan terhadap jurnalis, di Pekalongan, Jawa Tengah, 10 Oktober 2017. Aksi yang diikuti jurnalis lintas pantura Jateng tersebut sebagai bentuk protes atas penganiayaan sejumlah wartawan yang dilakukan anggota Polres Banyumas dan Satpol PP Kabupaten Banyumas saat mereka bertugas meliput pembubaran unjuk rasa warga terkait pembangunan PLTPB Gunung Slamet di depan kantor Bupati Banyumas pada Senin (9/10) malam.
Sejumlah wartawan membentangkan poster saat aksi solidaritas menolak kekerasan terhadap jurnalis, di Pekalongan, Jawa Tengah, 10 Oktober 2017. Aksi yang diikuti jurnalis lintas pantura Jateng tersebut sebagai bentuk protes atas penganiayaan sejumlah wartawan yang dilakukan anggota Polres Banyumas dan Satpol PP Kabupaten Banyumas saat mereka bertugas meliput pembubaran unjuk rasa warga terkait pembangunan PLTPB Gunung Slamet di depan kantor Bupati Banyumas pada Senin (9/10) malam. (Antara/Harviyan Perdana Putra)

Brussels - Sedikitnya 81 wartawan tewas di seluruh dunia saat bertugas pada tahun 2017. Pada tahun yang sama, kekerasan dan pelecehan terhadap wartawan juga meningkat. Hal itu disampaikan dalam laporan tahunan berjudul "Kill Report yang dirilis Federasi Wartawan Internasional (IFJ), baru-baru ini.

Federasi Wartawan Internasional (IFJ) menyatakan para wartawan tersebut kehilangan nyawa dalam pembunuhan yang ditargetkan, serangan bom mobil, dan insiden tembak-menembak di seluruh dunia.

The Associated Press melaporkan pula ada lebih dari 250 wartawan yang dipenjara pada 2017. Jumlah kematian wartawan hingga 29 Desember 2017 adalah yang terendah dalam satu dekade, jumlahnya turun dari 93orang pada 2016.

Namun jumlah terbesar wartawan terbunuh ada di Meksiko. Ada juga banyak wartawan lain yang tewas di wilayah konflik di Afghanistan, Irak dan Suriah.

IFJ mencurigai namun tidak dapat secara resmi mengkonfirmasi bahwa setidaknya satu jurnalis lainnya tewas pada hari Kamis dalam satu serangan oleh seorang pelaku bom bunuh diri milisi ISIS di pusat kebudayaan Syiah di Kabul, tempat setidaknya 41 orang meninggal.

Presiden IFJ Philippe Leruth mengatakan, saat kasus kematian menjadi tren menurun, tingkat kekerasan dalam jurnalisme yang tetap tinggi, tidak dapat diterima.

Leruth mengatakan IFJ menganggapnya yang paling mengganggu, penurunan ini tidak dapat dikaitkan dengan tindakan pemerintah manapun untuk mengatasi kekebalan hukum atas kejahatan-kejahatan ini.

Delapan wartawati terbunuh, dua orang di negara-negara demokrasi Eropa yakni Kim Wall di Denmark, yang meninggal di kapal selam seorang penemu yang sedang ditulis, dan jurnalis investigasi Malta Daphne Caruana Galizia yang diledakkan dengan bom mobil.

Di luar kasus kematian, IFJ memperingatkan banyaknya jumlah wartawan yang dipenjara, melarikan diri, dan kasus penyensoran sendiri yang menyebar luas. Pada saat yang sama, banyak pula kasus impunitas untuk pembunuhan, pelecehan, serangan dan ancaman terhadap jurnalisme independen yang menjalar pada tingkat epidemik.

Turki menjadi salah satu negara yang melakukan tekanan secara resmi pada media. Tekanan terus meningkat sejak usaha kudeta yang gagal pada Juli 2016. Pemerintah Turki menjadi terkenal karena menempatkan wartawan di balik jeruji besi. Sekitar 160 wartawan dipenjara di Turki, yakni dua pertiga dari jumlah seluruh dunia.

Organisasi tersebut juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap India, negara demokrasi terbesar di dunia. Di negara itu, serangan terhadap wartawan didorong oleh populisme kekerasan.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon