Kisah Miris Siswi SD Kulonprogo Asuh Adik karena Ibunya Sakit Kanker
Kamis, 5 Februari 2026 | 08:40 WIB
Kulonprogo, Beritasatu.com - Ariendra Raela Irgantari (9) siswi kelas tiga di SDN Gembongan, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta tetap ceria saat menjalani rutinitas berangkat ke sekolah setiap harinya. Namun, ada yang berbeda dibandingkan dengan teman-temannya yang lain.
Setiap hari, Raela harus mengajak serta adiknya Reyfan Elcaraka Fahturohman yang masih berusia 4 tahun menuju ke sekolah. Raela harus momong atau mengasuh adiknya karena kondisi kesehatan sang ibunda Rubiyanti yang terus menurun akibat kanker payudara yang dideritanya.
Rubiyanti harus rutin menjalani kemoterapi di Rumah Sakit Hardjolukito setiap hari selama 30 hari. Demi kesembuhan sang ibunda yang merupakan orang tua tunggal, Raela akhirnya mengasuh adiknya Reyfan dan diajak serta ke sekolah setiap harinya. Sementara adik bungsu terpaksa ikut ibundanya selama menjalani pengobatan di rumah sakit.
"Setiap hari ajak adik ke sekolah karena mamah radioterapi, sudah hampir 1bulan," kata Ariendra Raela Irgantari kapada wartawan didampingi ibunya Rubiyanti, Senin (1/2/2026).
Kegigihan Raela belajar sambil mengasuh sang adik ini dilakoninya hampir satu bulan. Raela mengaku senang dan tidak terganggu dengan keberadaan adiknya selama di sekolah.
"Seneng enggak apa-apa, enggak terganggu, adik ikut ke dalam kelas enggak nakal," ucap Raela.
Pihak sekolah sendiri memberikan dispensasi kepada Raela karena kondisi ibundanya yang masih berjuang melawan kanker di rumah sakit. Selama di sekolah, Reyfan sang adik juga dinilai penurut dan tidak mengganggu proses belajar mengajar siswa lain.
Meski dengan keterbatasan kondisi, namun Raela termasuk siswa yang cerdas dan berprestasi. Raela juga bercita-cita menjadi dokter dan memiliki rumah sakit sendiri supaya bisa mengobati lebih banyak orang.
"Raela prestasinya bagus sejak kelas satu, secara akademis dan sosial dia bagus, kemauan belajarnya tinggi, cita-citanya mau jadi dokter dan pengin punya rumah sakit sendiri sehingga bisa membantu orang yang membutuhkan," kata Kepala SDN Gembongan, Pri Hastuti Komarul.

Sementara itu, tinggal dirumah kontrakan Rubiyanti mengaku kesulitan mengasuh ketiga anaknya saat kondisi kesehatannya yang semakin menurun. Keterbatasan ekonomi mamaksa Rubiyanti memohon ijin kepada pihak sekolah untuk bisa menitipkan Reyfan disekolah lantaran dirumahnya tidak ada yang menjaga.
"Karena keterbatasan saya engga tau mau minta tolong ke siapa, saya cuma minta tolong ke kepala sekolah untuk minta kelonggaran waktu dan anak saya yang kecil ikut sekolah, pihak sekolah memperbolehkan karena saya harus berobat," ujar Rubiyanti, ibunda Raela.
Penghasilan sebagai buruh pembungkus minuman kemasan, tidak mencukupi untuk memenuhi seluruh kebutuhan. Meski memiliki jaminan kesehatan, Rubiyanti hanya bisa mengandalkan donasi untuk keperluan ongkos selama perjalanan ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan yang berkisar Rp 200.000 setiap harinya.
"Untuk biaya kadang saya dikasih, pernah dibantu dari yayasan, kalau therapy pakai BPJS, paling untuk ongkos Rp 200.000, saya cuma kerja pengemas minuman tradisional, selama saya sakit tidak ada keluarga yang datang maupun membantu makanya saya berusaha menyelesaikan semuanya sendiri," pungkas Rubiyanti.
Untuk ke sekolah, Raela harus menempuh perjalanan lebih dari 1 kilometer dari rumahnya dengan mengayuh sepeda dan dilanjutkan berjalan kaki bersama teman-temannya. Perjuangan Raela ini dilakukan demi menggapai cita-citanya menjadi seorang dokter.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




