739 Huntara Dibangun di Pidie Jaya, BPBD: Progresnya Sudah 80 Persen
Senin, 16 Februari 2026 | 18:30 WIB
Banda Aceh, Beritasatu.com - Badan Penanggungan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pidie Jaya, Aceh menyebutkan sebanyak 739 unit hunian sementara (huntara) untuk korban bencana hidrometeorologi sedang dibangun di daerah itu dengan progres rata-rata mencapai 80%.
"Hunian sementara atau huntara yang sedang dibangun di Kabupaten Pidie Jaya sebanyak 739 unit. Progres pembangunan bervariasi, rata-rata sudah mencapai 80%," kata Pelaksana Harian (Plh) Kepala BPBD Pidie Jaya Okta Handipa dikutip dari Antara, Senin (16/2/2026).
Lokasi pembangunan huntara tersebut di antaranya di kompleks perkantoran Pemerintahan Kabupaten Pidie Jaya di Kecamatan Meureudu, Gampong Meunasah Raya di Kecamatan Meurah Dua, dan beberapa lokasi lainnya.
Sedangkan hunian sementara yang sudah selesai dibangun serta sudah ditempati masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi sebanyak 212 unit. Terdiri, 162 unit huntara dibangun Danantara dan 50 unit dibangun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Kami berharap pembangunan hunian sementara tersebut dapat segera selesai, sehingga masyarakat terdampak bencana yang masih di pengungsian dapat secepatnya direlokasi ke hunian sementara," katanya.
Sebelumnya, Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi menyatakan Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya mempercepat pembangunan hunian sementara guna menargetkan pengungsi keluar dari tenda dan dipindahkan ke hunian sementara sebelum bulan suci Ramadan.
"Targetnya pembangunan hunian sementara tersebut rampung dan pengungsi dapat keluar tenda sebelum Ramadan," kata Sibral Malasyi ketika mendampingi Kepala BNPB Suharyanto meninjau pembangunan huntara di Gampong Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.
Bupati menegaskan penyediaan hunian sementara guna memastikan masyarakat terdampak bencana segera keluar dari kondisi pengungsian yang tidak layak, seperti tenda, aula pertemuan, sekolah, dan tempat ibadah.
Hunian sementara merupakan tempat tinggal yang lebih aman dan manusiawi sambil menunggu pembangunan hunian tetap, kata Sibral Malasyi menjelaskan.
"Ini bukan sekadar membangun tempat tinggal sementara, tetapi memastikan masyarakat bisa kembali hidup layak, sehat, dan bermartabat setelah bencana," katanya.
Menurut Sibral Malasyi, keberadaan hunian sementara memberikan manfaat nyata bagi korban bencana, di antaranya meningkatkan keamanan dan kesehatan dibandingkan tinggal di tenda.
Serta memberikan ruang hidup yang lebih layak bagi keluarga, memungkinkan masyarakat kembali beraktivitas pascabencana. Dan menata kehidupan sosial, ekonomi, serta menjadi solusi transisi yang jelas menuju hunian tetap.
"Kami menegaskan seluruh proses pemulihan pascabencana akan terus dikawal secara transparan dan sesuai aturan, dengan mengutamakan kepentingan masyarakat. Bersama kita bangkit, bersama kita pulih," kata Sibral Malasyi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




