ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu Tempe di Mataram Kecilkan Ukuran

Senin, 6 April 2026 | 13:58 WIB
MA
BW
Penulis: Muhammad Awaludin | Editor: BW
Perajin tahu dan tempe di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin 6 April 2026.
Perajin tahu dan tempe di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin 6 April 2026. (Beritasatu.com/M Awaluddin)

Mataram, Beritasatu.com — Kenaikan harga kedelai impor yang kini menembus lebih dari Rp 10.000 hingga Rp 11.000 per kilogram membuat perajin tahu dan tempe di Lingkungan Kekalik, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, makin tertekan. Untuk menjaga usaha tetap berjalan, para perajin terpaksa mengecilkan ukuran dan mengurangi ketebalan tahu serta tempe yang dipasarkan.

Sebagian perajin bahkan memilih menghentikan produksi karena tidak lagi mampu menanggung beban biaya bahan baku yang terus meningkat dalam sebulan terakhir.

Salah seorang perajin tahu dan tempe di kawasan Kekalik, Ripai, mengatakan harga kedelai yang sebelumnya masih berada di kisaran Rp 8.000 hingga Rp 9.000 per kilogram kini sudah naik menjadi Rp 10.100 per kilogram. Di lapangan, beberapa perajin menyebut harga kedelai impor bahkan telah mencapai Rp 11.000 per kilogram.

ADVERTISEMENT

"Kalau sekarang harganya per kilo itu Rp 10.100. Sebelumnya Rp 8.000 sampai Rp 9.000. Sekarang sudah lebih dari Rp 10.000 per kilo," kata Ripai saat ditemui di lokasi produksi, Senin (6/4/2026).

Menurut Ripai, kenaikan harga mulai terasa dalam sekitar satu bulan terakhir. Kedelai yang digunakan para perajin di Kekalik sebagian besar masih bergantung pada pasokan impor, termasuk dari Amerika Serikat, karena produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan.

"Kedelai ini impor. Ada yang dari Amerika, ada juga dari Jawa. Kalau di NTB, yang tanam masih sedikit dan baru mengandalkan musim hujan," ujarnya.

Karena harga jual tempe sulit dinaikkan, para perajin memilih menyesuaikan ukuran produk sebagai langkah bertahan agar usaha tetap berjalan tanpa kehilangan pelanggan.

"Siasatinya ya dikurangi isinya sedikit. Ketebalannya dikurangi pelan-pelan. Tidak bisa langsung karena pelanggan nanti protes," ujar Ripai.

Ia menjelaskan, satu cetakan tahu yang sebelumnya menggunakan dua kilogram kedelai kini mulai dikurangi agar tetap memberikan margin keuntungan meski sangat tipis.

"Biasanya satu cetak itu dua kilo. Sekarang takarannya dikurangi sedikit. Dari sana kita ambil untung sedikit," katanya.

Perubahan ukuran tersebut ternyata memicu keluhan dari pembeli yang menyadari tahu dan tempe kini menjadi lebih tipis dan kecil dibanding sebelumnya.

"Banyak yang komplain. Sekarang tipis, sekarang kecil. Namun, mau bagaimana lagi, harga kedelai naik dan pelanggan juga tidak mau kalau harga jual dinaikkan," katanya.

Kondisi tersebut juga berdampak pada penjualan yang mulai menurun. Jika sebelumnya pelanggan membeli dalam jumlah normal, kini sebagian besar hanya membeli setengah dari biasanya.

Selain itu, volume produksi ikut berkurang. Sebelum harga kedelai melonjak, Ripai mampu mengolah sekitar 1,5 kuintal kedelai per hari. Saat ini produksinya turun menjadi sekitar satu kuintal per hari karena khawatir produk tidak terserap pasar.

"Dahulu produksi satu setengah kuintal. Sekarang hanya satu kuintal karena takut tidak habis di pasaran. Pelanggan juga sudah berkurang," ujarnya.

Di tengah tekanan biaya produksi, sejumlah perajin skala kecil mulai menghentikan usaha. Perajin yang biasanya hanya mengolah sekitar 25 kilogram kedelai per hari dinilai paling rentan karena keuntungan yang diperoleh tidak lagi cukup menutup biaya operasional.

"Yang produksi sedikit banyak yang tutup. Pendapatannya tidak cukup untuk menutupi biaya. Yang masih bertahan itu yang produksinya besar, sekitar satu kuintal, meski untungnya sangat sedikit," kata Ripai.

Persaingan usaha di Kota Mataram juga membuat para perajin sulit menaikkan harga jual. Jika sebelumnya sentra produksi tahu dan tempe terkonsentrasi di kawasan Kekalik, kini usaha serupa telah berkembang di sejumlah wilayah lain seperti Pagesangan, Abian Tubuh, dan beberapa kawasan lain di Kota Mataram.

Situasi itu membuat perajin tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan ukuran produk agar tetap bertahan di tengah tingginya harga kedelai impor.
 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon