Restorasi Kejayaan Sang Nyonya Tua

Melki Gani
Melki Gani
Rabu, 2 November 2011 | 07:02 WIB

Dalam beberapa musim terakhir, La Vecchia Signora (Sang Nyonya Tua) Juventus tak ubahnya seperti orang jompo yang terpinggirkan ketika berbicara tentang perburuan gelar Serie A. Seperti bangsawan renta yang kehilangan gelar ningratnya, tak ada yang memedulikan Juventus. Mereka ada di sana, berdiri di pojok tapi tak dianggap karena mereka terlalu tua dan hina dina di kala dua tim berbeda warna dari kota Milan menguasai Italia.

Berulang kali Juventus mencoba bangkit dan merestorasi kejayaan mereka, tapi berulang kali juga mereka gagal dan tersendat. Sekembalinya mereka ke Serie A setelah menjalani hukuman degradasi ke Serie B, asa sempat membubung tinggi bahwa mereka tak butuh waktu lama untuk kembali bersaing di level elit.

Manajer Claudio Ranieri menukangi Juventus selama dua musim dan memberi hasil menjanjikan dengan membawa mereka finis ketiga di musim pertama, tapi eks manajer Chelsea tersebut didepak setelah gagal di Liga Champions dan digantikan oleh figur yang tak asing bagi klub tersebut, mantan bek loyal Ciro Ferrara. Malangnya, kiprah Ferrara sebagai manajer tak segagah saat dirinya masih menjadi palang pintu Juventus.

Hanya enam bulan yang dibutuhkan bagi manajemen klub untuk mengucap selamat tinggal bagi Ferrara pada Januari 2010 dan mengontrak Alberto Zaccheroni sebagai penggantinya. Zac pun gagal mengatrol penampilan Juventus, hanya mampu mendudukkan klub tersebut di peringkat tujuh tanpa gelar.

Jelang akhir musim 2009/2010, Juventus mengalami masa transisi presidensial saat Andrea Agnelli yang belum genap 35 tahun mengambilalih jabatan presiden klub dari Jean-Luc Blanc. Andrea, anak laki-laki dari presiden Juventus paling tersohor, Umberto Agnelli, langsung mengambil langkah dengan mengganti Zaccheroni dengan Luigi Del Neri yang kembali berakhir tidak memuaskan.

Juventus kembali finis di urutan tujuh di akhir musim 2010/2011 dan pada titik itu fans mulai berpikir bahwa proses restorasi Juventus ke percaturan papan atas Serie A membutuhkan waktu yang lebih lama dari yang mereka butuhkan. Lima tahun pasca Calciopoli yang mencoreng wajah sepakbola Italia itu, Juventus mulai berpikir bahwa Serie A tampak telah berevolusi menjadi sebuah rimba yang tak lagi mereka kenali alamnya.

Juara Eropa dua kali Juventus harus menyaksikan bagaimana klub-klub seperti Napoli dan Udinese meraih tiket ke Liga Champions sementara hanya dua poin yang memisahkan mereka dengan Palermo di peringkat delapan.

Tapi itu cerita musim lalu. Serie A akan menjalani pekan ke-10 minggu ini dan Juventus, sang Nyonya Tua yang terhinakan itu bertengger di puncak klasemen tanpa terkalahkan. Mereka telah memukul juara bertahan AC Milan 2-0 awal bulan lalu dan pekan lalu Juventus mengalahkan tim yang merajai Italia kala mereka sedang berkubang di lumpur, Inter Milan, dengan skor 2-1 di kandang lawan.

Performa Juventus begitu menjanjikan, bahkan Andrea Agnelli pun rasanya tak meramalkan mereka bersinar cemerlang awal musim ini. Musim ini tadinya ditargetkan sebagai musim penguatan finansial dan pemasaran bagi Juventus dengan peresmian stadion baru, Juventus Stadium. Stadion anyar yang berkapasitas lebih kecil dari stadion sebelumnya, Delle Alpi, ini diharapkan bisa meningkatkan pemasukan klub dari sisi penjualan tiket dan meningkatkan atmosfer yang seperti kuburan di stadion sebelumnya.

Tapi peningkatan yang paling signifikan justru terjadi di lapangan. Saat Antonio Conte ditunjuk menjadi manajer Juventus, tak banyak yang antusias selain karena dirinya adalah salah satu ikon klub sebagai bekas pemain. Berbekal karier pelatihan yang biasa saja, Conte dipandang tak lebih dari sekadar Ciro Ferrara lainnya. Nyatanya, seperti saat Susan Boyle naik ke atas panggung dan memukau Simon Cowell, Conte mengejutkan semua orang.

Semasa bermain, Conte adalah seorang gelandang pekerja yang bisa ditaruh di tengah atau di sayap. Ia mempunyai kemampuan jelajah dan energi yang tinggi, tapi tak pernah dianggap sebagai pemain dengan kreasi seperti Alessandro Del Piero. Maka Conte menjadi buah bibir di kalangan pengamat saat ia dengan berani menerapkan formasi ultra ofensif yang bagi kebanyakan orang dianggap sebagai transformasi dari formasi 4-2-4 yang tersohor itu.

Conte menaruh dua sayap Juventus begitu jauh di depan saat memegang bola meski keduanya kembali mundur saat kehilangan bola. Untuk strategi yang demikian ofensif, Conte membutuhkan figur distributor bola yang kokoh di lini tengah dan siapa yang lebih baik dalam melakukannya dibanding Andrea Pirlo, pemain yang oleh karenanya posisi deep playmaker dikenal oleh banyak orang?

Juventus juga memetik benefit dari skuad mereka yang memiliki kedalaman kualitas. Beberapa pemain buruan mereka di bursa transfer mungkin luput dari kejaran, tapi hasil belanja mereka juga tak kalah berkelas. Selain Pirlo yang mereka dapatkan dengan gratis dari AC Milan (apa yang Milan pikirkan?!), mereka juga mendapat gelandang Arturo Vidal dari Bayer Leverkusen dan pemain sayap eksplosif asal Belanda, Eljero Elia. Ditopang oleh ketajaman Mirko Vucinic di lini depan dan Claudio Marchisio yang semakin solid di lini tengah, kuda zebra Juventus memiliki tenaga yang cukup untuk berpacu dengan tim  lainnya.

Seperti yang diutarakan Conte usai memukul Inter Milan, Juventus menolak untuk berbicara mengenai gelar juara saat kompetisi bahkan belum melewati musim dingin. Tapi berbekal kepercayaan diri dan skuad yang solid, Juventus mempunyai amunisi yang lebih dari cukup untuk menciptakan ledakan-ledakan kecil di udara, menandakan bahwa Sang Nyonya Tua telah kembali.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon