Senat AS Selidiki Meta atas Dugaan Bahaya Chatbot AI bagi Anak
Selasa, 19 Agustus 2025 | 03:03 WIB
Washington, Beritasatu.com - Senat Amerika Serikat resmi membuka penyelidikan terhadap Meta setelah muncul dugaan bahwa produk kecerdasan artifisial (AI) generatif perusahaan tersebut berpotensi membahayakan anak-anak.
Senator Josh Hawley, yang memimpin Subkomite Kejahatan dan Kontraterorisme, menegaskan penyelidikan akan difokuskan pada kemungkinan eksploitasi, penipuan, hingga risiko bahaya lain dari chatbot AI Meta. Ia juga menuding perusahaan menyesatkan publik dan regulator terkait sistem pengamanan teknologi mereka.
Langkah investigasi ini bermula dari bocornya dokumen internal Meta berjudul “GenAI: Content Risk Standards”.
Dalam dokumen tersebut, disebutkan bahwa chatbot AI diizinkan melakukan percakapan romantis dengan anak di bawah umur, bahkan dengan anak berusia delapan tahun. Salah satu contoh percakapan berbunyi, “Setiap inci dari dirimu adalah mahakarya, harta yang sangat aku hargai.”
Meta buru-buru menegaskan bahwa contoh itu tidak sesuai dengan kebijakan perusahaan dan telah dihapus. Namun, menurut Hawley, kebijakan tersebut tetap tidak bisa diterima, terlebih karena sempat diajukan sebelum akhirnya ditarik kembali setelah kasus ini terungkap.
Dalam surat resminya kepada CEO Meta, Mark Zuckerberg, Hawley meminta perusahaan menyerahkan seluruh dokumen panduan, termasuk setiap draf, revisi, hingga versi final.
Ia juga menuntut daftar produk yang mematuhi standar tersebut, laporan keselamatan dan insiden, serta identitas pihak yang menyetujui maupun merevisi kebijakan. Meta diberi batas waktu hingga 19 September 2025 untuk merespons permintaan itu.
Investigasi ini mendapat dukungan dari Senator Marsha Blackburn. Ia menilai Meta gagal melindungi anak-anak di ruang digital.
“Dalam melindungi anak-anak di ruang digital, Meta gagal total dalam segala hal. Lebih buruk lagi, perusahaan menutup mata terhadap konsekuensi fatal dari desain platformnya. Laporan ini kembali menegaskan mengapa kita perlu mengesahkan Kids Online Safety Act,” ujar Marsha.
Kasus ini menambah panjang daftar kontroversi seputar tanggung jawab perusahaan teknologi dalam melindungi generasi muda. Dengan penyelidikan Senat AS yang semakin tajam, Meta kembali berada di bawah sorotan publik, terutama terkait transparansi kebijakan dan keamanan anak di platform berbasis AI generatif.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




