47 Hari Jelang Piala Dunia 2026, Ini 5 Masalah Utama yang Menghantui
Sabtu, 25 April 2026 | 14:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Dengan menyisakan 47 hari hingga Piala Dunia dimulai pada Kamis (11/6/2026), FIFA dan negara-negara tuan rumah menghadapi kritik atas berbagai persoalan sosial, politik, dan logistik yang mengiringi ajang 4 tahunan tersebut.
Kanada dan Meksiko akan menjadi tuan rumah bersama Amerika Serikat, yang melancarkan perang terhadap Iran bersama Israel pada 28 Februari 2026. Meskipun saat ini berlaku gencatan senjata sementara yang rapuh, partisipasi Iran dalam turnamen masih belum pasti.
Para penggemar di tiga negara tuan rumah menyoroti mahalnya harga tiket yang berdampak pada penjualan dan minat terhadap turnamen empat tahunan ini.
Selain itu, politisi lokal dan masyarakat menyampaikan kekhawatiran terkait kenaikan tarif transportasi pada rute yang menghubungkan lokasi pertandingan di Amerika Serikat.
Masalah Piala Dunia 2026
Melansir laporan Al Jazeera, berikut lima isu utama yang dinilai krusial terhadap penyelenggaraan FIFA World Cup 2026:
1. Perkembangan partisipasi Iran
Tim sepak bola Iran tengah mempersiapkan diri, tetapi keputusan akhir terkait keikutsertaan akan ditentukan oleh pemerintah dan Dewan Keamanan Nasional setelah meninjau aspek keselamatan di Amerika Serikat.
Bulan lalu, Iran menyatakan tidak akan berpartisipasi di tengah konflik, terutama jika negara tuan rumah tidak mampu menjamin keamanan pemain. Pernyataan ini muncul setelah unggahan Presiden Donald Trump yang menyebut keselamatan tim Iran tidak dapat dijamin di AS.
Federasi sepak bola Iran kemudian meminta FIFA memindahkan pertandingan ke Meksiko, tetapi permintaan tersebut ditolak. Ketua FIFA Gianni Infantino menyatakan bahwa Iran tetap harus hadir dalam turnamen tersebut.
Iran dijadwalkan memainkan seluruh laga fase grup di Pantai Barat AS. Jika lolos ke fase gugur, pertandingan berikutnya juga tetap berlangsung di AS.
2. Harga tiket transportasi yang tinggi di AS
Penggemar diperkirakan harus membayar hampir 12 kali lipat dari tarif normal sebesar US$ 12,90 untuk perjalanan pulang pergi dari Stasiun Penn di Manhattan ke Stadion MetLife di New Jersey.
Gubernur New Jersey Mikie Sherrill dan FIFA saling mengkritik tarif sebesar US$ 150 untuk perjalanan sejauh 14 km. Sherrill menilai FIFA seharusnya menanggung biaya tersebut, sementara FIFA menyatakan tidak memiliki kewajiban.
Perjalanan menuju Stadion Gillette di Boston mencapai sekitar empat kali lipat harga normal (US$ 20), sedangkan bus pulang pergi ke Foxborough mencapai US$ 95.
Sementara itu, Los Angeles dan Philadelphia berkomitmen menjaga tarif tetap stabil. Kansas City menawarkan tarif pulang pergi sebesar US$ 15 ke Stadion Arrowhead.
Houston menambah armada transportasi dengan tarif tetap, yakni US$ 1,25 untuk bus dan kereta ringan, serta opsi park-and-ride mulai dari US$ 2 hingga US$ 4,50.
3. Harga tiket tinggi, permintaan rendah
Harga tiket yang tinggi memicu keluhan karena dianggap membatasi akses penggemar. Penjualan tiket untuk sejumlah pertandingan besar, termasuk AS melawan Paraguay, menunjukkan perlambatan.
FIFA mulai menjual tiket sejak Desember dengan harga mulai dari US$ 140 hingga US$ 8.680 untuk final. Harga kemudian naik hingga US$ 10.990 saat penjualan dibuka kembali pada 1 April 2026.
Awalnya, panitia menjanjikan tiket mulai dari US$ 21, namun realisasinya mencapai US$ 60. Mayoritas tiket dijual di kisaran minimal US$ 200 untuk pertandingan tim unggulan.
Penjualan berikutnya dibuka dengan sistem siapa cepat dia dapat untuk seluruh 104 pertandingan.
4. Kekhawatiran razia imigrasi selama turnamen
Kebijakan deportasi massal dan pengetatan imigrasi di Amerika Serikat menimbulkan kekhawatiran bagi penonton internasional.
FIFA diminta menekan pemerintah AS agar tidak melakukan razia selama turnamen. Laporan menyebut agen imigrasi sempat hadir pada ajang sebelumnya, meskipun hal tersebut dibantah pemerintah.
Beberapa pihak menilai moratorium kebijakan imigrasi dapat menjadi langkah positif secara citra bagi pemerintah AS. FIFA juga diharapkan memanfaatkan hubungan dengan pemerintah untuk meredakan kekhawatiran.
5. Kekhawatiran keamanan di Meksiko
Meksiko menghadapi kekhawatiran keamanan setelah insiden penembakan terhadap turis di kawasan piramida Teotihuacan, yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO.
Insiden tersebut menewaskan seorang turis Kanada dan melukai 13 lainnya. Peristiwa ini memunculkan pertanyaan terkait kesiapan keamanan menjelang turnamen.
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menyatakan pemerintah akan memperketat pengamanan untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang.
Dengan 47 hari menuju kick-off, Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan antusiasme, tetapi juga berbagai tantangan yang berpotensi memengaruhi kelancaran penyelenggaraan.
Dari ketidakpastian Iran akibat konflik geopolitik, lonjakan harga tiket dan transportasi, hingga kebijakan imigrasi di AS serta isu keamanan di Meksiko, seluruhnya menunjukkan kompleksitas penyelenggaraan turnamen global ini.
FIFA bersama tuan rumah—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—terus berupaya memastikan kesiapan. Namun, berbagai isu tersebut menegaskan bahwa Piala Dunia 2026 menjadi ujian besar bagi tata kelola global, stabilitas politik, dan kesiapan infrastruktur internasional.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




