French Open Terancam Boikot, Pemain Sebut Pembagian Uang Tak Adil
Selasa, 12 Mei 2026 | 18:06 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Dunia tenis profesional tengah diguncang isu miring setelah sejumlah pemain papan atas menyuarakan kekecewaan mereka terhadap pembagian pendapatan turnamen. Petenis nomor satu dunia putri, Aryna Sabalenka, bahkan memberikan sinyal kuat bahwa para pemain mungkin akan mulai memboikot turnamen Grand Slam jika tidak ada perubahan signifikan pada skema hadiah uang bagi para atlet.
Pernyataan ini muncul tepat saat pihak penyelenggara French Open (Roland Garros) merilis total hadiah untuk edisi 2026. Meskipun ada kenaikan total hadiah sekitar 10% menjadi £ 53,5 juta, para pemain merasa ada ketidakadilan yang tersembunyi.
“Sabalenka bersama petenis nomor satu dunia putra, Jannik Sinner, menyoroti bahwa persentase jatah pemain dari total pendapatan turnamen justru diproyeksikan turun dari 15,5% menjadi 14,9%,” tulis Tennis Gazette, Selasa (12/5/2026).
Kesenjangan ini memicu perdebatan mengenai apakah petenis profesional, terutama mereka yang berada di luar peringkat 100 besar, mendapatkan bayaran yang layak. Bagi banyak pemain, biaya perjalanan, pelatih, hingga tim medis sangatlah mahal, sehingga kenaikan hadiah di babak awal dianggap tidak sebanding dengan biaya operasional yang terus melonjak setiap tahunnya.
Menanggapi ancaman boikot tersebut, mantan petenis sekaligus mantan Direktur Turnamen French Open, Guy Forget, memberikan komentar pedas. Dalam wawancara dengan Tennis Actu TV, Forget menyebut bahwa petenis seringkali bersikap egois dan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Ia menilai para agen dan pelatih di sekitar pemainlah yang mendorong sikap "rakus" tersebut demi keuntungan mereka sendiri.
Forget menegaskan bahwa Roland Garros adalah sebuah "kuil" tenis yang tetap akan dipenuhi penonton meskipun para bintang top memilih untuk tidak hadir. Menurutnya, tiga perempat dari total pemain akan tetap senang datang dan bermain, meskipun hanya kalah di putaran kedua namun membawa pulang hadiah sebesar €150.000 hanya untuk kerja keras selama beberapa hari.
Lebih lanjut, Forget mengingatkan para pemain masa kini untuk lebih bersyukur atas fondasi yang telah dibangun oleh para legenda terdahulu. Ia menyebut nama-nama besar seperti Martina Navratilova, Steffi Graf, hingga Roger Federer sebagai sosok yang membuat industri tenis menjadi semaju sekarang. Ia menilai peningkatan hadiah sebesar 15% setiap tahun adalah hal yang luar biasa dibandingkan profesi lain di dunia.
Kritik Forget juga menyasar pada logika persentase pendapatan yang dituntut pemain. Ia mengibaratkan turnamen seperti sebuah bisnis besar yang melakukan investasi besar-besaran untuk infrastruktur, sehingga wajar jika federasi memetik keuntungan lebih. Menurutnya, jika seorang pemain menolak bermain, akan selalu ada pemain lain yang siap mengambil tempat mereka dan mendapatkan bayaran besar di masa depan.
Ketegangan antara pemain dan penyelenggara ini menjadi awan mendung bagi kemeriahan French Open 2026 yang dijadwalkan mulai bergulir pada 18 Mei 2026 mendatang. Publik kini menanti apakah ancaman boikot ini akan benar-benar terjadi ataukah akan ada titik temu dalam negosiasi mengenai hak-hak ekonomi para atlet di atas lapangan tanah liat Paris.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




