Benarkah Pulau Bali Kehilangan Daya Tarik Wisata? Ini Faktanya
Selasa, 23 Desember 2025 | 23:40 WIB
Pandangan serupa disampaikan warganet lain melalui platform X. Seorang warga Bali mengaku prihatin dengan kondisi pariwisata saat ini, yang menurutnya dipengaruhi berbagai persoalan lingkungan dan infrastruktur.
“Sebagai orang Bali, jujur aku sedih melihat Bali sekarang terasa sepi. Bukan tanpa alasan. Beberapa hal emang bikin capek, TPA mau ditutup, kami bingung soal sampah hingga berserakan. Macet makin jadi, alam perlahan dirusak. Berita banjir pun mempengaruhi,” tulis Pamungkas lewat akun @terpamungkas.
Ia menegaskan bahwa tulisannya murni berdasarkan apa yang dirasakannya. “Aku nulis apa yang aku rasain, sudah gitu saja. Enggak ada yang dikurangi atau dilebih-lebihkan,” lanjutnya.
Dinas Pariwisata Bali Sebut Ada High Season dan Low Season
Menanggapi narasi Bali sepi, Kepala Dinas Pariwisata Bali I Wayan Sumarajaya menjelaskan bahwa pariwisata Bali memiliki siklus kunjungan yang berulang setiap tahun.
“Kalau ritme kehadiran wisatawan per tahun memang di Bali ada yang high dan low season. Kita high season ada pada Juni, Juli, Agustus, dan September, setelah itu memang ada penurunan secara alami tetapi tidak begitu tajam dan itu biasa dari tahun ke tahun, nanti menjelang Nataru naik kembali,” ujar Sumarajaya, Senin (22/12/2025).
Ia menyebutkan, sejak pertengahan Desember mulai terlihat kenaikan kunjungan wisatawan asing. “Sebetulnya sejak tanggal 14 Desember sudah ada peningkatan, untuk wisatawan asing sudah berada di atas 20.000 per hari,” katanya.

Secara kumulatif, jumlah kunjungan wisman ke Bali pada 2025 juga tercatat meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada 2024 total kunjungan mencapai 6,3 juta, maka hingga Desember 2025 angkanya sudah menembus 6,7 juta.
Gubernur Tegas Bantah Isu Bali Sepi
Pada kesempatan lain, Gubernur Bali I Wayan Koster secara tegas membantah narasi Bali sepi. Ia menyebut isu tersebut tidak sesuai dengan data yang dimiliki pemerintah daerah.
“Bohong saya punya data, setiap hari meningkat, sekarang ini 17.000 setiap harinya untuk wisatawan asing, sebelumnya 20.000, total dari Januari–Desember sudah mencapai 6,7 juta, pada 2024 jumlahnya 6,3 juta,” kata Koster seusai rapat paripurna DPRD Bali di Denpasar, Senin (22/12/2025).
Menurutnya, masih ada waktu dua pekan menjelang puncak Nataru, sehingga potensi kenaikan kunjungan masih sangat terbuka. Namun, Koster mengakui adanya tantangan lain, yakni tingkat okupansi hotel yang tidak setinggi jumlah kunjungan.
Ia menilai kondisi tersebut dipengaruhi tren wisatawan asing yang memilih menginap melalui, platform seperti Airbnb, yang belum sepenuhnya berkontribusi pada pajak daerah.
Bali Tetap Menjadi Desnitasi Andalan Wisatawan Nusantara
Sementara itu, Kementerian Pariwisata memproyeksikan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) yang besar selama libur akhir tahun. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana memperkirakan terdapat sekitar 128 juta perjalanan wisata domestik sepanjang periode libur.
“Kemudian kalau untuk yang naik pesawat (wisatawan) itu sekitar 3,4 juta orang,” kata Widiyanti saat meninjau Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Selasa (23/12/2025).
Ia menyebut pergerakan wisatawan diperkirakan terkonsentrasi di sejumlah destinasi utama, termasuk Bali, Surabaya, Jawa Tengah, dan beberapa wilayah di Sumatera.
“Bali tetap untuk domestik, tetapi untuk yang naik pesawat tentunya. Tadi saya juga berbicara ada yang ke Surabaya, ke Sumatera juga, Ujung Pandang. Jadi banyak beragam tetapi Bali masih favorit. Kemudian Yogyakarta juga rame sekali sekarang,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat




