Klarifikasi Ceramah Viral, Jusuf Kalla: Agama Bukan Alat Konflik
Sabtu, 18 April 2026 | 16:51 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla memberikan klarifikasi terkait ceramahnya yang viral di media sosial dan memicu polemik publik. Dalam pernyataan di kediamannya di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026), Kalla menegaskan isi ceramah tersebut disalahpahami karena dipotong dari konteks utuh.
Ia menjelaskan, ceramah disampaikan saat Ramadan di lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan audiens terbatas, yakni kalangan muslim dan intelektual. “Ceramah Ramadan itu audiensnya jelas, di masjid, di kampus, dan mayoritas muslim. Jadi pendekatannya disesuaikan,” ujarnya.
Dalam klarifikasinya, Kalla juga menyinggung pengalaman masa lalu saat menangani konflik komunal di Maluku dan Poso. Ia mengingatkan konflik tersebut merupakan tragedi kemanusiaan besar yang tidak lepas dari penyalahgunaan sentimen agama.
Menurutnya, konflik di Maluku menelan korban hingga sekitar 7.000 jiwa dalam tiga tahun, sedangkan di Poso jumlah pengungsi mencapai sekitar 100.000 orang. Kalla yang saat itu menjabat sebagai menteri koordinator kesejahteraan rakyat (menko kesra) mengaku turun langsung ke lapangan untuk membantu meredakan konflik.
“Saya masuk tanpa pengawal. Saat itu tidak ada yang berani masuk ke wilayah konflik,” ungkapnya.
Ia menekankan pendekatan dialog dan pemahaman lintas kelompok menjadi kunci utama dalam menghentikan kekerasan. Terkait istilah “syahid” yang menjadi sorotan, Kalla menjelaskan penggunaan istilah tersebut disesuaikan dengan audiens. Ia menyebut maknanya sepadan dengan istilah “martir”.
“Kalau saya gunakan istilah ‘martir’, belum tentu dipahami. Jadi saya pakai istilah yang sesuai konteks,” jelasnya.
Kalla menegaskan, dirinya tidak pernah bermaksud membenarkan kekerasan atas nama agama. Justru sebaliknya, ia ingin menunjukkan konflik sering kali muncul akibat pemahaman yang keliru. “Tidak ada agama yang mengajarkan membunuh sesama, baik Islam maupun Kristen,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan konflik kerap dipicu faktor politik, ekonomi, dan kesalahpahaman ideologis yang kemudian dibungkus dengan narasi agama. Pada akhir pernyataannya, Kalla mengajak generasi muda untuk tidak menjadikan agama sebagai alat konflik, melainkan sebagai landasan untuk menjaga persatuan.
“Jangan sekali-kali agama dipakai untuk konflik. Calon pemimpin harus adil dan rasional,” pesannya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




