ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Menko Perekonomian Minta Seluruh Pihak Tidak Reaktif Terhadap Konflik Iran-Israel

Jumat, 19 April 2024 | 17:02 WIB
AK
AD
Penulis: Arnoldus Kristianus | Editor: AD
enteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Jumat 19 April 2024.
enteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Jumat 19 April 2024. (Beritasatu.com/Arnoldus Kristianus)

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah meminta seluruh pihak untuk tetap mawas diri namun tidak bersikap reaktif terhadap kondisi konflik antara Iran-Israel.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah terus melakukan pemantauan terhadap konflik yang terjadi. Sejumlah negara juga sedang bersikap menahan diri agar dampak dari konflik tersebut tidak merembet ke negara lain.

“Kita tidak perlu reaktif karena dari segi Iran sendiri men-denial, menteri luar negerinya mengatakan itu bukan dari Israel jadi kita monitor aja dan kita tidak perlu reaktif,” ucap Airlangga di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perkonomian pada Jumat (19/4/2024).

ADVERTISEMENT

Dia mengatakan negara-negara Barat khususnya AS sudah menyatakan tidak mau terlibat. Yordania, Mesir, dan Arab Saudi akan berupaya untuk menghindari eskalasi konflik lebih lanjut. Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres sudah mendesak semua pihak menahan diri, dan sedang berupaya mengendalikan eskalasi situasi.

“Negara-negara Timur Tengah lain juga enggak ada kepentingannyam jadi semua menahan diri. Kita lihat saja dan jangan kita yang reaktif sendiri,” tutur Airlangga.

Konflik tersebut dikhawatirkan akan memengaruhi perekonomian khususnya terhadap harga komoditas dan nilai tukar. Oleh karena itu pemerintah terus melakukan sejumlah langkah agar konflik di Timur Tengah tidak memberikan dampak rambatan terhadap laju perekonomian nasional.

“Kalau kita monitor saja, yang penitng kalau range kan tergantung supply dan demand. Jadi dalam situasi seperti ini kalau tidak ada kepentingan untuk beli dolar, ya jangan dibeli, karena kan kita harus jaga kebutuhan mendatang,” terang Airlangga.

Pemerintah melihat upaya yang sebelumnya dijalankan saat meredam dampak konflik Rusia-Ukraina ke perekonomian Indonesia. Apalagi saat perang Rusia-Ukraina juga masih dalam masa pandemi Covid-19. Dalam hal ini pemerintah akan mengoptimalkan peran anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk meredam dampak ketegangan geopolitik tersebut

“Perang yang paling dahsyat itu di Ukraina karena ada Covid-19, ada kenakian harga komoditas karena embargo bahan pangan dan harga minyak juga tidak terkendali, dan itu bisa kita kendalikan dengan mekanisme yang ada. Kita jaga supply chain, kita jaga pasar ekspor, kemudian kita juga menggunakan APBN sebagai shock absorber,” ungkap Airlangga.
 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Pimpin Pertemuan Indonesia-Rusia, Airlangga Bahas Kerja Sama Strategis

Pimpin Pertemuan Indonesia-Rusia, Airlangga Bahas Kerja Sama Strategis

EKONOMI
Airlangga: Stabilitas Ekonomi Kawasan Jadi Fokus KTT ASEAN

Airlangga: Stabilitas Ekonomi Kawasan Jadi Fokus KTT ASEAN

INTERNASIONAL
Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I Ungguli Negara G20

Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I Ungguli Negara G20

MULTIMEDIA
Airlangga Beberkan Penyebab Rupiah Anjlok Jadi Rp 17.424 Per Dolar AS

Airlangga Beberkan Penyebab Rupiah Anjlok Jadi Rp 17.424 Per Dolar AS

EKONOMI
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi Juara di Antara Anggota G20

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi Juara di Antara Anggota G20

EKONOMI
Rupiah Tembus Rp 17.360, Airlangga Soroti Tekanan Global

Rupiah Tembus Rp 17.360, Airlangga Soroti Tekanan Global

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon