ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Mayoritas Wall Street Menguat, tetapi Nasdaq Terkoreksi Akibat Aksi Jual Saham Big Tech

Selasa, 14 Januari 2025 | 05:16 WIB
AD
AD
Penulis: Alfi Dinilhaq | Editor: AD
ilustrasi Wall Street.
ilustrasi Wall Street. (AP/AP)

Jakarta, Beritasatu.com - Mayoritas bursa perdagangan Amerika Serikat (AS) Wall Street mencatatkan kenaikan. Namun, Nasdaq Composite justru merosot tajam akibat aksi jual saham-saham teknologi besar yang sebelumnya menjadi motor penggerak pasar.

Mengutip CNBC International, Selasa (14/1/2025), Dow Jones Industrial Average melonjak 358,67 poin atau 0,86% ke level 42.297,12. Lonjakan ini dipicu peralihan investor ke saham nonteknologi, seperti Caterpillar, JPMorgan, dan UnitedHealth.

Sementara itu, S&P 500 juga naik tipis sebesar 0,16% menjadi 5.836,22. Sebaliknya, Nasdaq yang didominasi saham teknologi justru turun 0,38% ke posisi 19.088,10.

ADVERTISEMENT

Selama dua pekan terakhir, ketiga indeks utama ini mencatatkan penurunan, yang sebagian besar disebabkan oleh lemahnya kinerja saham teknologi.

Beberapa saham unggulan Wall Street yang sebelumnya mendukung tren bullish, seperti Palantir dan Nvidia, masing-masing turun lebih dari 3% dan hampir 2% dalam perdagangan hari itu.

Penurunan ini melanjutkan tren negatif dari pekan lalu, dengan Nvidia melemah hampir 6% dan Palantir anjlok lebih dari 15%. Saham teknologi populer lainnya, seperti Apple dan Micron, juga catat penurunan.

Di tengah tekanan pada sektor teknologi, sektor energi menunjukkan performa positif dengan kenaikan lebih dari 2%, didorong oleh peningkatan harga minyak. Selain itu, sektor kesehatan dan material juga mengalami penguatan.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS menjadi salah satu faktor utama yang memicu aksi jual pada saham berbasis pertumbuhan. Pada Senin, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak November 2023, ditutup di angka 4,79%.

Peningkatan imbal hasil ini terjadi setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari ekspektasi memunculkan keraguan terhadap rencana pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve.

Kepala Strategi Teknikal LPL Financial Adam Turnquist menyatakan, dengan potensi imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun menyentuh 5%, pasar saham akan menghadapi tantangan untuk mencatatkan kenaikan signifikan hingga ada stabilitas suku bunga.

Saat ini, investor menaruh harapan pada musim laporan keuangan kuartal IV untuk mendukung stabilitas pasar. Beberapa bank besar, seperti Citigroup, Goldman Sachs, dan JPMorgan Chase, dijadwalkan merilis laporan keuangan mereka pada Rabu (15/1/2025), sementara Morgan Stanley dan Bank of America akan merilis laporan pada Kamis (16/1/2025).

Saat Wall Street melemah, investor pekan ini juga menantikan data ekonomi penting, termasuk laporan indeks harga konsumen (CPI) untuk Desember yang akan diumumkan pada Rabu (15/1/2025) pagi, serta laporan indeks harga produsen (PPI) yang dirilis pada Selasa (14/1/2025).

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Wall Street Cetak Rekor Baru, Saham AI dan Cip Jadi Penggerak

Wall Street Cetak Rekor Baru, Saham AI dan Cip Jadi Penggerak

EKONOMI
IHSG Hari Ini 8 Mei 2026 Dibuka Melemah ke Level 7.146,4

IHSG Hari Ini 8 Mei 2026 Dibuka Melemah ke Level 7.146,4

EKONOMI
Wall Street Melemah di Tengah Fluktuasi Harga Minyak

Wall Street Melemah di Tengah Fluktuasi Harga Minyak

EKONOMI
S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Penutupan Tertinggi

S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Penutupan Tertinggi

EKONOMI
Wall Street Melesat, S&P 500 Tembus ATH Baru di Atas Level 7.200

Wall Street Melesat, S&P 500 Tembus ATH Baru di Atas Level 7.200

EKONOMI
Wall Street Melemah Tertekan Harga Minyak dan Suku Bunga The Fed

Wall Street Melemah Tertekan Harga Minyak dan Suku Bunga The Fed

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon