ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Tingginya PHK Berpotensi Hambat Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Rabu, 7 Mei 2025 | 17:36 WIB
AK
H
Penulis: Arnoldus Kristianus | Editor: HE
Ribuan karyawan Sritex resmi terkena PHK.
Ribuan karyawan Sritex resmi terkena PHK. (Beritasatu/Rizka Ardina)

Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia (BI) menyampaikan kekhawatiran atas meningkatnya jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea, menyampaikan, PHK secara langsung berdampak pada daya beli masyarakat. Hal ini berbahaya karena konsumsi rumah tangga merupakan komponen terbesar yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Daya beli akan terpengaruh. Ketika daya beli terpengaruh, konsumsi turun. Konsumsi domestik sebagai salah satu motor mendorong pertumbuhan di tengah ekspor yang tidak seperti dahulu lagi, tentu akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi,” ucap Erwin, Rabu (7/5/2025).

ADVERTISEMENT

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 tercatat sebesar 4,87%. Komponen konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dari sisi pengeluaran, tumbuh 4,89% dengan kontribusi sebesar 54,53% terhadap total pertumbuhan ekonomi kuartal tersebut.

Erwin menambahkan, tekanan ekonomi global juga berdampak pada kinerja ekspor Indonesia. Ketika ekspor tidak berjalan optimal, industri ikut terdampak. Kondisi ini dikhawatirkan memicu peningkatan angka pengangguran.

"Implikasinya adalah kemampuan korporasi dalam menahan dampak pelemahan penjualan. Apabila industri terus melemah, dikhawatirkan akan terjadi peningkatan PHK," ujarnya.

Sementara itu, Peneliti Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus mengatakan pelemahan daya beli membuat investor ragu untuk membangun pabrik di Indonesia. Karena itu, pemerintah perlu menjaga kepastian pasar agar sektor produksi tetap bergeliat.

"Ketika pasar lemah, pelaku usaha tidak akan berproduksi secara optimal. Dampaknya, mereka mengurangi penggunaan tenaga kerja dan bahan baku, yang pada akhirnya memperlambat pertumbuhan sektor lain," jelas Ahmad.

Ahmad menekankan pentingnya kebijakan jangka pendek berupa stimulus untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Dengan meningkatnya konsumsi, sektor produksi akan kembali bergairah, sehingga PHK bisa ditekan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Isu PHK Mencuat, Menkeu Purbaya: Ekonomi Masih Tumbuh

Isu PHK Mencuat, Menkeu Purbaya: Ekonomi Masih Tumbuh

EKONOMI
Pengadilan China Larang PHK Demi Gantikan Karyawan dengan AI

Pengadilan China Larang PHK Demi Gantikan Karyawan dengan AI

INTERNASIONAL
PHK Marak, Dicoding Sebut Peluang IT Justru Kian Terbuka

PHK Marak, Dicoding Sebut Peluang IT Justru Kian Terbuka

OTOTEKNO
Tak Perlu Pasrah! Ini Tahap Banding PHK Sepihak agar Pesangon Aman

Tak Perlu Pasrah! Ini Tahap Banding PHK Sepihak agar Pesangon Aman

NASIONAL
Bukan Asal Pecat! Ini 7 Alasan Legal Perusahaan Boleh Lakukan PHK

Bukan Asal Pecat! Ini 7 Alasan Legal Perusahaan Boleh Lakukan PHK

NASIONAL
PHK Kuartal I Tembus 8.389, Job Fair Online OLX 2026 Diburu

PHK Kuartal I Tembus 8.389, Job Fair Online OLX 2026 Diburu

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon