ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Indef: Kredibilitas Kebijakan Kunci Cipta Lapangan Kerja

Kamis, 5 Februari 2026 | 11:10 WIB
AD
AD
Penulis: Alfi Dinilhaq | Editor: AD
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti. (Beritasatu.com/Muhammad Farhan)

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, menegaskan bahwa kredibilitas kebijakan negara memegang peran krusial dalam upaya membuka lapangan kerja di Indonesia.

Esther menyampaikan bahwa kredibilitas yang tecermin dari proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah (policy making) sangat memengaruhi sentimen investor maupun calon investor yang berencana menanamkan modal di Tanah Air.

"Kredibilitas negara itu dicerminkan dari policy making. Jika decision-nya tidak dijalankan dengan baik, nanti investor bisa bertanya-tanya, apakah (investasinya) aman atau tidak di Indonesia," kata Esther dikutip dari Antara, Kamis (5/2/2025)

ADVERTISEMENT

Ia menambahkan, ketidakpastian tersebut pada akhirnya berdampak langsung terhadap arus investasi dan penciptaan lapangan kerja.

"Itu nanti berpengaruh ke investasi yang masuk, penciptaan lapangan pekerjaan, dan seterusnya," ujarnya.

Mengacu pada riset Mandiri Institute, Esther menjelaskan konsumsi masyarakat memang mulai pulih pada akhir 2025, namun pemulihannya tidak berlangsung merata. Pola konsumsi antarkelompok pendapatan menunjukkan kecenderungan k-shaped pattern, di mana kelompok berpendapatan atas semakin kuat, sementara kelas menengah justru menghadapi keterbatasan.

Secara struktural, pola tersebut menguat pascapandemi. Terbatasnya konsumsi kelas menengah, menurut Esther, terutama dipicu penurunan kualitas pekerjaan yang berdampak pada kemampuan pendapatan.

Hingga akhir 2025, arus dana masuk (incoming fund) kelompok menengah belum menunjukkan perbaikan berarti. Jika kondisi ini berlanjut, pola serupa diperkirakan masih akan terlihat sepanjang 2026.

Berkaca pada dinamika pasar tenaga kerja sepanjang 2025, Esther menilai situasi pada tahun ini tidak akan banyak berubah, seiring masih adanya tekanan dari ketidakpastian geopolitik global serta kondisi fundamental ekonomi, baik di dalam maupun luar negeri.

Pada sisi lain, ia menilai penciptaan lapangan kerja dapat didorong melalui penguatan industri padat karya, seperti tekstil dan alas kaki. Dalam konteks ini, Esther menekankan pentingnya peran pemerintah melalui kebijakan yang lebih konkret dan langsung menyentuh sektor tersebut.

"Kalau misalnya (pemerintah) mau bantu industri tekstil, bisa beri insentif atau subsidi, misalnya subsidi bahan baku, harga bahan baku, subsidi transportasi dan logistik untuk mengurangi biaya logistik dan transportasi, seperti itu," kata Esther.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Demo di DPRD Sumsel, Mahasiswa Angkat Kartu Merah Tanda Peringatan

Demo di DPRD Sumsel, Mahasiswa Angkat Kartu Merah Tanda Peringatan

SUMATERA SELATAN
Demo Mahasiswa UII, Desak BBM Turun hingga Perbaikan Komunikasi Publik

Demo Mahasiswa UII, Desak BBM Turun hingga Perbaikan Komunikasi Publik

JAWA TENGAH
Gejayan Membara, Ribuan Massa Evaluasi Kebijakan Pemerintah

Gejayan Membara, Ribuan Massa Evaluasi Kebijakan Pemerintah

NASIONAL
Puan Desak Pemerintah Tahan Rupiah seusai Tembus Rp17.500

Puan Desak Pemerintah Tahan Rupiah seusai Tembus Rp17.500

NASIONAL
Batas Potongan 8 Persen Dinilai Ancam Ekosistem Mobilitas Digital

Batas Potongan 8 Persen Dinilai Ancam Ekosistem Mobilitas Digital

EKONOMI
Airlangga Ungkap Jurus Satgas Hadapi Gejolak Global dan Perang Energi

Airlangga Ungkap Jurus Satgas Hadapi Gejolak Global dan Perang Energi

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon