Tanpa Cold Storage, Harga Pangan Sulit Stabil
Selasa, 17 Februari 2026 | 07:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Lonjakan harga pangan menjelang Ramadan kembali terjadi. Kenaikan harga cabai, bawang, daging ayam, telur, hingga daging sapi hampir menjadi pola tahunan saat memasuki bulan puasa. Kondisi ini dinilai mencerminkan masih lemahnya sistem pengelolaan pasokan pangan nasional dalam mengantisipasi lonjakan permintaan musiman.
Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Eliza Mardian, menilai fenomena tersebut bukan semata-mata akibat peningkatan konsumsi rumah tangga, melainkan persoalan struktural dalam sistem pangan nasional.
Menurut Eliza, permintaan pangan memang meningkat signifikan menjelang Ramadan. Namun, pasokan tidak bisa merespons dengan cepat karena bergantung pada siklus produksi dan musim panen. Ketika permintaan melonjak sementara belum memasuki masa panen, harga pun terdorong naik.
“Persoalannya, suplai memiliki periode tertentu karena disesuaikan dengan musim panen, ada yang bulanan, bahkan tiga bulanan,” ujar Eliza saat dihubungi Beritasatu.com, Senin (16/2/2026).
Eliza menjelaskan, pertanyaan mengapa stok tidak disiapkan jauh hari sebelum Ramadan tidak bisa dijawab secara sederhana. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan infrastruktur penyimpanan, khususnya cold storage dan sistem rantai dingin (cold chain).
Komoditas seperti cabai, bawang, daging ayam, dan telur termasuk produk yang mudah rusak dan tidak bisa disimpan lama tanpa fasilitas pendingin. Akibatnya, saat terjadi surplus produksi atau panen raya, stok tidak dapat ditahan untuk dilepas ketika permintaan meningkat.
“Kalau kita punya cold storage yang memadai, komoditas tersebut bisa disimpan saat produksi melimpah. Jadi, ketika permintaan meningkat seperti Ramadan, sementara belum masuk musim panen, stok yang ada bisa dikeluarkan untuk menahan kenaikan harga,” jelasnya.
Karena itu, pembangunan cold storage dinilai harus menjadi prioritas dalam kebijakan stabilisasi harga pangan. Namun, tidak cukup hanya membangun gudang, melainkan juga perlu sistem logistik rantai dingin yang terintegrasi agar kualitas komoditas tetap terjaga hingga sampai ke konsumen.
"Untuk membangun cold storage tersebut sangat dibutuhkan investasi swasta karena kalau gunakan APBN terbatas," tutur Eliza.
Eliza juga menilai rencana pembangunan gudang baru oleh Bulog sebaiknya tidak hanya difokuskan pada beras dan jagung. Komoditas hortikultura dan protein hewani yang berkontribusi besar terhadap inflasi kelompok volatile food juga perlu mendapat perhatian.
Ia mengingatkan, kenaikan harga pangan yang lebih cepat dibanding pertumbuhan upah dapat menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah bawah yang mengalokasikan sekitar 50%–60% pendapatannya untuk kebutuhan pangan.
Untuk jangka pendek, pemerintah didorong mengintensifkan operasi pasar yang menyasar wilayah dengan konsentrasi masyarakat menengah bawah.
Sementara dalam jangka menengah dan panjang, pemerintah perlu memperkuat sistem informasi pangan berbasis data real-time, membangun early warning system, serta melakukan perencanaan dan proyeksi permintaan menjelang Ramadan secara lebih presisi.
Tanpa pembenahan pada sisi produksi, distribusi, dan sistem informasi pangan, kenaikan harga pangan jelang Ramadan diperkirakan akan terus menjadi siklus tahunan.
"Nah, ini mutlak perlu koordinasi yang solid antarstakeholder terkait dari hulu sampai ke hilir," tutup Eliza.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat




