1,7 Ton Cabai Rawit Merah Disebar ke Kramat Jati untuk Tekan Harga
Selasa, 24 Februari 2026 | 17:07 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Kementerian Pertanian (Kementan) menyalurkan 1,7 ton cabai rawit merah ke Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ), Jakarta, sebagai langkah konkret menjaga ketersediaan pasokan sekaligus menekan gejolak harga selama Ramadan 1447 Hijriah.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementan Muhammad Agung Sunusi menegaskan, distribusi tersebut merupakan bagian dari strategi stabilisasi harga di tingkat konsumen.
"Ini merupakan bagian dari upaya konkret pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan mengendalikan harga cabai rawit merah di tingkat konsumen," kata Agung di Jakarta, Selasa (24/2/2026) dikutip dari Antara.
Menurutnya, suplai cabai ke PIKJ akan terus diperkuat melalui dukungan para champion cabai yang tersebar di berbagai sentra produksi nasional. Skema ini dirancang agar aliran pasokan tetap terjaga sepanjang Ramadan.
"Pasokan ke PIKJ akan terus kami jaga. Champion cabai di sentra produksi siap mengirimkan cabai rawit merah secara berkelanjutan agar kebutuhan masyarakat selama Ramadan tetap terpenuhi," ujar Agung.
Ia menjelaskan, harga cabai rawit merah dari champion cabai dipatok di kisaran Rp 50.000 per kilogram. Untuk memastikan harga di tingkat konsumen tidak melonjak, pemerintah melalui Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) Badan Pangan Nasional (Bapanas) memberikan subsidi ongkos angkut dari sentra produksi ke PIKJ.
"Dengan skema tersebut, harga tertinggi di tingkat konsumen diharapkan tidak melebihi Rp 65.000 per kilogram," ucap Agung.
Sementara itu, komoditas hortikultura lainnya relatif stabil. Cabai rawit putih diperdagangkan sekitar Rp 30.000 per kilogram, cabai keriting hijau Rp 25.000 per kilogram, cabai besar merah Rp 40.000 per kilogram, dan cabai keriting merah Rp 50.000 per kilogram. Dari berbagai jenis tersebut, lonjakan signifikan hanya terjadi pada cabai rawit merah.
Kenaikan harga ini dipicu tingginya curah hujan di sejumlah sentra produksi yang menghambat proses panen. Di sisi lain, meningkatnya permintaan menjelang Ramadan, termasuk tradisi nyekar atau ziarah kubur, turut mendorong konsumsi cabai di awal puasa.
"Curah hujan tinggi membuat petani tidak bisa melakukan pemetikan optimal. Ditambah peningkatan konsumsi masyarakat menjelang Ramadhan menyebabkan harga sempat naik. Namun, dengan intervensi distribusi ini, kami optimistis harga segera stabil," beber Agung.
Kementan, lanjutnya, akan terus memantau perkembangan harga dan pasokan di seluruh daerah sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono. Koordinasi dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga champion cabai diperkuat guna memastikan distribusi berjalan lancar.
"Intervensi distribusi akan terus dilakukan secara responsif apabila terjadi lonjakan harga, sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan harga terjangkau," kata Agung.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




