Wall Street Ditutup Menguat karena Aksi Beli Saham Teknologi
Rabu, 25 Februari 2026 | 07:53 WIB
New York, Beritasatu.com – Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada Rabu (25/2/2026), dipimpin kenaikan saham teknologi seiring meningkatnya kembali optimisme terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Spekulasi mengenai dampak AI terhadap berbagai sektor mendorong pergerakan besar pada saham dalam beberapa pekan terakhir. Penurunan tajam yang terjadi pada perdagangan sebelumnya menjadi gambaran perubahan selera risiko investor di tengah ketidakpastian tersebut.
Managing Partner Keator Group Matthew Keator mengatakan pasar kemungkinan akan menghadapi periode ketidakpastian dalam waktu dekat. Menurut dia, investor saat ini memanfaatkan pelemahan harga saham untuk melakukan aksi beli.
“Kita akan melihat pergerakan harian yang cukup dinamis. Namun masih banyak ketidakpastian mengenai apakah AI akan memberikan nilai tambah atau justru mendisrupsi sejumlah perusahaan,” ujar Keator dilansir dari Reuters.
Pada penutupan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average naik 370,44 poin atau 0,76% menjadi 49.174,50. Indeks S&P 500 bertambah 52,32 poin atau 0,77% ke level 6.890,07, sementara Nasdaq Composite naik 236,41 poin atau 1,05% menjadi 22.863,68.
Tiga indeks utama Wall Street mencatat kenaikan solid, dengan sektor semikonduktor menjadi salah satu yang berkinerja terbaik. Indeks S&P Software & Services yang sebelumnya tertekan juga naik 1,3%.
Dari sisi kebijakan, pejabat bank sentral AS juga menyoroti potensi dampak AI terhadap pasar tenaga kerja. Gubernur Federal Reserve Lisa Cook menilai teknologi tersebut berpotensi meningkatkan tingkat pengangguran dalam jangka pendek.
Sebaliknya, Gubernur The Fed Christopher Waller menilai AI tidak akan mengganggu pasar tenaga kerja secara signifikan.
Ketidakpastian lain datang dari kebijakan perdagangan AS. Mahkamah Agung AS pada Jumat (20/2/2026) membatalkan sebagian besar tarif global yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump. Namun Trump kemudian mengancam akan memberlakukan kembali tarif baru terhadap barang impor.
Pada Bursa Efek New York (NYSE), saham yang naik melampaui yang turun dengan rasio 2,06 banding satu. Tercatat 464 saham mencetak level tertinggi baru dan 159 saham menyentuh level terendah baru.
Sementara pada Nasdaq, sebanyak 3.194 saham menguat dan 1.493 saham melemah dengan rasio 2,14 banding satu. Indeks S&P 500 mencatat 46 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan 13 terendah baru, sedangkan Nasdaq mencatat 99 tertinggi baru dan 164 terendah baru.
Volume perdagangan di bursa AS mencapai 17,06 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 20,29 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




