ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Sentimen FOMC Jadi Penghambat Kinerja Bitcoin

Minggu, 22 Maret 2026 | 08:18 WIB
MK
MK
Penulis: Martin Bagya Kertiyasa | Editor: MBK
Ilustrasi Bitcoin
Ilustrasi Bitcoin (Freepik/Fabrikasimf)

Jakarta, Beritasatu.com – Pergerakan pasar kripto saat ini dipengaruhi hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang membentuk ekspektasi baru investor terhadap arah kebijakan moneter global.

Wakil Presiden Indodax Antony Kusuma menyatakan, harga Bitcoin turun ke kisaran US$ 70.000 setelah hasil pertemuan FOMC menunjukkan kebijakan moneter yang masih cenderung ketat.

Sebelumnya, Bitcoin sempat menguat mendekati US$ 76.000 didorong arus masuk dana institusional ke spot Bitcoin ETF sebesar US$ 199,37 juta. Secara kumulatif, arus masuk dana selama tujuh hari mencapai US$ 1,16 miliar.

“Hal ini menunjukkan minat investor besar masih terjaga meski pasar mengalami volatilitas. Namun, setelah pertemuan FOMC, investor melakukan penyesuaian yang tercermin dari koreksi sekitar 7%–8%,” ujar Antony dalam keterangannya.

ADVERTISEMENT

Menurut dia, keputusan FOMC yang mempertahankan suku bunga acuan serta merevisi naik proyeksi inflasi mengindikasikan kebijakan Federal Reserve masih bersifat hawkish.

“Pasar menangkap sinyal bahwa inflasi belum turun secepat harapan, sehingga likuiditas ke aset berisiko seperti kripto menjadi lebih terbatas. Namun, kondisi ini merupakan bagian dari penyesuaian terhadap dinamika ekonomi global,” jelasnya.

Dalam keputusan terbarunya, The Fed menahan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% dan menaikkan proyeksi inflasi 2026 menjadi sekitar 2,7%.

Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan penurunan suku bunga akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, di tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah serta kenaikan harga energi.

Antony menilai kondisi tersebut membuat peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat menjadi terbatas, sehingga berdampak pada minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto.

Saat ini, pergerakan Bitcoin berada di kisaran US$ 70.000, dengan level US$ 70.000–US$ 72.000 menjadi area support penting yang dicermati investor.

Selama level tersebut mampu bertahan, harga diperkirakan relatif stabil dalam jangka pendek, didukung arus masuk dana institusional yang membantu meredam tekanan jual.

“Namun, jika harga menembus level support, maka koreksi berpotensi berlanjut ke level yang lebih rendah,” ujarnya.

Ia menambahkan, sentimen pasar saat ini masih sangat dipengaruhi faktor makroekonomi. Meski demikian, fase koreksi dan konsolidasi dapat dimanfaatkan investor untuk menata ulang strategi investasi dengan manajemen risiko yang tepat serta fokus jangka panjang.

Sejalan dengan hal tersebut, Indodax menegaskan komitmennya dalam menyediakan ekosistem perdagangan aset kripto yang aman, transparan, dan mudah diakses oleh seluruh member.

Perusahaan juga aktif mendorong literasi melalui Indodax Academy, agar pengguna memahami risiko investasi serta pentingnya riset mandiri (do your own research/DYOR).

Selain itu, strategi seperti Dollar Cost Averaging (DCA) dinilai dapat membantu investor menghadapi volatilitas pasar secara lebih disiplin.

Melalui edukasi berkelanjutan, Antony mengajak masyarakat untuk tetap rasional, bertanggung jawab, dan berorientasi jangka panjang dalam menyikapi peluang di pasar kripto.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Tunggu Arah Ekonomi, The Fed Kembali Tahan Suku Bunga

Tunggu Arah Ekonomi, The Fed Kembali Tahan Suku Bunga

EKONOMI
The Fed Tahan Suku Bunga Imbas Perang Iran Picu Ketidakpastian Global

The Fed Tahan Suku Bunga Imbas Perang Iran Picu Ketidakpastian Global

EKONOMI
The Fed Turunkan Suku Bunga 25 Bps, Siap Pangkas Lagi 2 Kali Tahun Ini

The Fed Turunkan Suku Bunga 25 Bps, Siap Pangkas Lagi 2 Kali Tahun Ini

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon