El Nino Godzilla Mengintai, Indonesia Sudah Siapkan 'Perisai' Pangan
Senin, 6 April 2026 | 17:48 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Indonesia menghadapi ancaman kekeringan panjang akibat fenomena El Nino "Godzilla", yang diprediksi dapat berlangsung hingga enam bulan dan berpotensi mengganggu produksi pangan nasional. Namun, pemerintah memastikan kesiapan menghadapi krisis pangan dengan stok beras dan pangan strategis yang mencapai level tertinggi sepanjang sejarah, didukung strategi mitigasi cuaca, pompanisasi, dan optimalisasi lahan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, hingga akhir Maret 2026, sebanyak 7% zona musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Jumlah ini diperkirakan terus bertambah. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada April, Mei, dan Juni 2026.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan peluang berkembangnya fenomena El Nino pada semester kedua tahun ini. Hingga akhir Maret 2026, kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) terpantau masih Netral. Namun, pemodelan iklim menunjukkan ENSO berpotensi berkembang menjadi fase El Nino pada semester II 2026.
“Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Nioo berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50%-80%, dan mencatat adanya kemungkinan kecil (kurang dari 20%) fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat,” kata Ardhasena, dikutip dari laman BMKG, Senin (6/4/2026).
BMKG juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menginterpretasikan data prediksi saat ini karena adanya spring predictability barrier, penurunan drastis akurasi prediksi model cuaca dan iklim untuk ENSO saat belahan Bumi utara melewati musim semi (Maret, April, Mei). Akurasi prediksi El Nino pada periode ini umumnya hanya andal untuk tiga bulan ke depan. Oleh karena itu, BMKG terus memantau pembaruan data secara berkala dan mengkaji perkembangannya.
“Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya, sebagai kontribusi juga dari variabilitas iklim alamiah yang ada di wilayah Indonesia,” jelas Ardhasena.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan melalui langkah-langkah presisi yang bisa dilakukan oleh seluruh pihak.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




