Indonesia Tergantung Jawa

Indonesia Tergantung Jawa
Tabel kontribusi pulau-pulau di Indonesia terhadap produk domestik bruto. ( Foto: Badan Pusat Statistik )
Primus Dorimulu / AB Selasa, 7 Mei 2019 | 17:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ekonomi Indonesia masih tergantung Jawa. Sekitar 59,03% produk domestik bruto (PDB) Indonesia dikontribusi oleh Jawa. Ditambah Sumatera, kontribusi kedua pulau ini terhadap PDB nasional mencapai 80,39%. Ketimpangan pembangunan wilayah belum banyak berubah. Jawa masih menjadi pusat pertumbuhan.

Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (6/5/2019), mengumumkan laju pertumbuhan ekonomi dan angka pengangguran Indonesia. Selama kuartal pertama 2018 hingga kuartal pertama 2019, ekonomi Indonesia bertumbuh 5,07%. Pada periode sebelumnya, Maret 2018, year on year, laju pertumbuhan ekonomi 4,94%. Namun, laju pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2019, quarter to quarter, terjadi penurunan 0,52%.

Dilihat dari wilayah, laju pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi di Sulawesi, yakni mencapai 6,51%. Sedang pertumbuhan ekonomi terendah dialami Papua dan Maluku yang minus 10,44%. Pertumbuhan ekonomi Kalimantan 5,33%, Sumatera 4,55%, dan NTT 4,64%.

Paralel dengan kontribusi terhadap PDB, jumlah penduduk di Jawa sudah mencapai 152 juta atau 56% terhadap total penduduk Indonesia yang saat ini diperkirakan 270 juta. Jumlah penduduk Sumatera 59 juta, Bali dan Nusa Tenggara 15 juta, Kalimantan 16 juta, Sulawesi 19,9 juta, Maluku 3 juta, dan Papua 4,4 juta. Penyebaran penduduk yang tidak merata berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi.

Untuk bisa mengimbangi Jawa, laju pertumbuhan ekonomi di luar Jawa harus dipacu agar melesat di atas 10%. Saat ini, kontribusi Jawa terhadap PDB mencapai 59,03%, Sumatera 21,36%, Kalimantan 8,26%, Sulawesi 6,14%, Bali dan Nusa Tenggara 3,02%, Maluku dan Papua 2,19%. Kontribusi Jawa dan Sumatera terhadap PDB mencapai 80,39%.

Investasi Melambat
Angka pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2019 di bawah ekspektasi pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Laju pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun ini diprediksi sekitar 5,2%. Pertumbuhan ekonomi di bawah ekspektasi disebabkan oleh perbedaan penurunan ekspor dan rendahnya investasi.

Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga dan investasi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, masing-masing, 2,75% dan 1,65%. Pertumbuhan tertinggi adalah pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit melayani rumah tangga (LNPRT) yang mencapai 16,93%. Konsumsi pemerintah tumbuh 5,21%, sedang konsumsi rumah tangga 5,01% dan investasi 5,03%. Pertumbuhan ekspor minus 2,08% dan impor minus 7,75%.

Belanja pemerintah biasanya baru meningkat signifikan di kuartal ketiga dan keempat. Ekspor dan impor terpengaruh oleh kondisi ekonomi global yang masih lesu. Ekonomi AS dan Tiongkok sebagai penggerak ekonomi dunia mengalami penurunan. Sedang kegiatan investasi di Indonesia masih wait and see.

Sedikit-banyaknya, Pemilu Serentak 17 April 2019 memberikan dampak. Masa kampanye dan proses penghitungan suara yang terlalu lama menimbulkan ketidakpastian. Pada pemilu presiden, kedua paslon sama-sama mengklaim menang, meski hasil quick count dan real count KPU menunjukkan keunggulan paslon 01.

Kegiatan investasi diperkirakan baru meningkat usai pengumuman pemenang pilpres oleh KPU pada 22 Mei 2019. Meski tidak akan ada kericuhan yang bersifat masif, pelaku bisnis tetap menunggu suasana politik tenang.

Kontribusi Industri
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi adalah jasa perusahaan yang mencapai 10,36%, disusul jasa lainnya 9,99%, informasi dan komunikasi 9.03%, pengadian air 8,95%, jasa kesehatan dan kegiatan sosial 8,61%. Sektor perdagangan bertumbuh 5,2%, pertanian 1,81%, konstruksi 5,91%, pertambangan 2,32%, dan industri 3,86%.

Sedang menurut struktur ekonomi, kontribusi industri terhadap PDB sebesar 20,07%, terbesar dibanding sektor lainnya. Peringkat selanjutnya adalah sektor perdagangan 13,20%, pertanian 12,65%, konstruksi 10,76%, dan pertambangan 7,77%.

Kontribusi sektor industri terhadap PDB terus menurun. Pada kuartal 2014, kontribusi sektor industri mencapai 23,56%. Kondisi ini disinyalir sebagai deindustrialisasi.

Dari sisi pertumbuhan, pada kuartal pertama 2019 (year on year), laju pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai sektor jasa perusahaan sebesar 10,36%. Laju pertumbuhan sektor industri pada periode ini hanya 3,86%.

Peran sektor industri sangat penting dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Selain mendongkrak ekspor, 14% tenaga kerja terserap di sektor industri. 



Sumber: BeritaSatu.com