GoTo Mulai Bookbuilding IPO, Ini Kata Analis
Rabu, 16 Maret 2022 | 05:18 WIB
Jakarta, Beritasatu.com- GoTo atau PT GoTo Gojek Tokopedia, perusahaan teknologi Indonesia yang dibentuk dari penggabungan Gojek dan Tokopedia, siap melaksanakan proses penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. GoTo akan memulai penawaran awal (bookbuilding) pada Senin (15/3/2022) hingga Senin pekan depan (21/3/2022) dengan kisaran harga Rp 316-Rp 346 per saham.
Baca Juga: Tawarkan Rp 316- Rp 346 Per Saham, GoTo Bidik Dana IPO Rp 17,99 T
Analis menilai saat ini merupakan momentum tepat bagi GoTo melantai di bursa sejalan pemulihan ekonomi yang tengah berlangsung. Direktur Asosiasi Riset dan Investasi PT Pilarmas Investindo, Maximilianus Nico Demus mengatakan, agar terus sustain maka sebuah bisnis harus terus berinovasi. Ini juga yang dilakukan GoTo dengan menjadi perusahaan terbuka agar leluasa mengembangkan bisnisnya. Sejatinya rencana ini akan dilakukan pada akhir tahun 2021 lalu. "Namun dengan mepertimbangakan kondisi, GoTo memutuskan melakukan IPO pada awal tahun 2022," jelasnya kepada Investor Daily, Selasa (15/3/2022).
Ia meyakini bahwa pasca-IPO, saham GoTo tidak akan mengalami seperti saham PT Bukalapak Tbk (BUKA) yang pada saat itu para investor menaruh harapan terlalu tinggi sejalan melesatnya harga saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII). Persepsi dan ekspektasi menurut Nico juga jadi faktor menilai sebuah saham.
Di sisi lain, GoTo memiliki bisnis berbeda dengan ekosistem lebih luas. Untuk diketahui, Gojek pada awal berdirinya di Indonesia berhasil menggeser kebiasaan masyarakat Indonesia yang konvensional menuju digitalisasi dari segi transportasi hingga aspek-aspek dasar seperti berbelanja. "Hal ini yang menjadi nilai ekonomis lebih dari Bukalapak atau perusahaan sejenis di Indonesia," ujarnya.
Dia menilai harga saham yang ditawarkan saat ini yakni Rp 316 sampai Rp 346 per saham dinilai tergolong murah dengan ekosistem yang diberikan GoTo. Meski saat ini GoTo tercatat masih mencatatkan kerugian Rp 11,58 triliun dan total aset sebanyak Rp 158,17 triliun per akhir September 2021. Selain itu, ia menyampaikan posisi finansial GoTo tidak bisa dihitung menggunakan acuan old economy karena perusahaan berkonsep new economy.
Apabila mematok harga tersebut, GoTo diperkirakan akan meraih dana segar Rp 17,99 triliun dan menjadi sejarah baru bagi dunia pasar modal Indonesia. Nico menekankan, para investor tidak perlu khawatir dengan prospek saham GoTo. Jika tidak mau berinvestasi jangka panjang, bisa melakukan trading jangka pendek atau mencermati pergerakan harga sahamnya setidaknya 2 hari pasca IPO. "Ke depan, kami yakin GoTo dapat menggunakan seluruh dana hasil IPO untuk terus mengembangkan usahanya," ujarnya.
Baca Juga: Soal Rencana IPO GoTo, Bagaimana Progresnya?
Antisipasi perseroan dengan menerapkan skema stabilisasi harga saham atau yang biasa dikenal dengan istilah greenshoe. Dengan metode ini, harga GoTo diharapkan dapat terus terjaga pasca-IPO.
Dalam skema ini, GoTo akan mencadangkan 15% atau 7,8 miliar saham dari jumlah saham yang ditawarkan dengan saat IPO sebagai treasury. Menurut analis Kiwoom Sekuritas Abdul Aziz menyatakan, skema ini bisa menjaga harga saham GoTo agar tidak jatuh di bawah harga perdana. "Tetapi perlu diperhatikan juga beberapa risiko yang bisa menghambat perseroan dalam mencapai target. Terlebih kasus Covid-19 yang sewaktu-waktu dapat meningkat kembali," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




