Tingkat Kelahiran Terendah di Dunia, Penduduk Korea Selatan Menua dengan Cepat
Selasa, 24 Desember 2024 | 16:34 WIB
Seoul, Beritasatu.com - Penduduk Korea Selatan kini secara resmi masuk kategori super tua, dengan 20% dari total penduduknya berusia 65 tahun atau lebih. Hal ini disampaikan berdasarkan data resmi yang dirilis pada Selasa (24/12/2024).
Tren ini mencerminkan dampak dari tingkat kelahiran yang sangat rendah di negara tersebut.
Sebagai ekonomi terbesar keempat di Asia, Korea Selatan hanya mencatatkan 0,7 kelahiran per wanita pada akhir tahun lalu. Angka ini menjadikannya salah satu tingkat kelahiran terendah di dunia dan jauh di bawah tingkat penggantian 2,1 yang diperlukan untuk mempertahankan populasi yang stabil.
Artinya, penduduk Korea Selatan saat ini menua dan menyusut dengan cepat. Data dari Kementerian Dalam Negeri menunjukkan bahwa warga berusia 65 tahun ke atas mencakup 20% dari total populasi terdaftar yang mencapai 51,2 juta jiwa, atau sekitar 10 juta orang.
Hal ini menempatkan penduduk Korea Selatan sejajar dengan masyarakat dari negara-negara seperti Jepang, Jerman, dan Prancis dalam kategori masyarakat super tua.
Lebih lanjut, data menunjukkan bahwa populasi lansia di Korea Selatan telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 2008, ketika jumlahnya kurang dari lima juta. Dari kelompok usia ini, pria mencakup sekitar 44 persen, menurut laporan kementerian.
Untuk menghadapi krisis ini, pemerintah telah mengalokasikan miliaran dolar untuk mendorong peningkatan angka kelahiran. Salah satu langkah terbaru adalah memberikan subsidi bagi pembekuan sel telur. Namun, berbagai inisiatif tersebut sejauh ini gagal memberikan hasil yang signifikan. Berdasarkan prediksi, penduduk Korea Selatan diperkirakan akan turun menjadi 39 juta jiwa pada tahun 2067, dengan usia rata-rata mencapai 62 tahun.
BACA JUGA
Skandal Darurat Militer Korea Selatan: 4 Jenderal Ditangkap Termasuk Komandan Angkatan Darat
Para pakar mengidentifikasi sejumlah faktor yang menyebabkan rendahnya angka pernikahan dan kelahiran. Tingginya biaya hidup, termasuk biaya membesarkan anak dan harga properti yang melonjak, menjadi hambatan utama. Selain itu, budaya kerja yang kompetitif membuat sulit bagi individu untuk mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi.
Beban ganda yang dihadapi oleh ibu pekerja juga menjadi sorotan. Sebagian besar perempuan diharapkan untuk tetap menjalankan peran tradisional, seperti mengurus rumah tangga dan mengasuh anak, sambil tetap berkarir. Kondisi ini memberikan tekanan tambahan yang signifikan, yang pada akhirnya berdampak pada keputusan untuk memiliki anak buat penduduk Korea Selatan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat




